Rekomendasi Harga Minyak 8 September 2026 : Naik Akibat Gangguan Pelayaran di Selat Hormuz

44

(Vibiznews – Commodity) – Perdagangan minyak mentah dunia, baik jenis WTI maupun Brent, melonjak tajam ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir pada perdagangan hari ini, Selasa (8/9/2026). Harga minyak melesat signifikan akibat meningkatnya ancaman gangguan pasokan jangka panjang di kawasan Timur Tengah, seiring rentetan eskalasi geopolitik yang terus memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data perdagangan terkini, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent melonjak sekitar 2,06 persen ke level 99,00 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 99,22 dolar AS per barel, mendekati ambang psikologis 100 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat lebih tajam sebesar 3,2 persen, berada di kisaran 94,41 dolar AS per barel. Lonjakan tajam pada kedua patokan harga minyak dunia ini menegaskan bahwa premi risiko geopolitik kembali membesar secara signifikan di pasar energi global.

Sentimen pendorong utama pada perdagangan hari ini datang dari laporan mengenai kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi. Serangan tersebut dilaporkan melukai puluhan orang di beberapa situs ekonomi dan sipil, sehingga memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kerusakan infrastruktur minyak vital secara struktural di salah satu produsen utama dunia tersebut.

Ketegangan geopolitik semakin memanas setelah Teheran mengeluarkan ancaman langsung berupa “perang ekonomi” terhadap Amerika Serikat. Ancaman ini memperpanjang kecemasan pasar atas potensi konflik militer yang berkepanjangan di kawasan penghasil minyak utama dunia, sekaligus menutup peluang tercapainya de-eskalasi dalam waktu dekat antara kedua negara yang telah berseteru selama berbulan-bulan.

Dari sisi arus pelayaran, data maritim terbaru menunjukkan rata-rata hanya terdapat 10 kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz per hari selama 10 hari terakhir, titik terendah sejak bulan Mei lalu. Anjloknya lalu lintas pelayaran di jalur maritim krusial tersebut menjadi konfirmasi nyata bahwa gangguan terhadap arus distribusi fisik minyak dari kawasan Teluk semakin parah, bukan sekadar kekhawatiran di atas kertas.

Merespons perkembangan ini, lembaga keuangan raksasa Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak mereka, dengan alasan gangguan pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Goldman Sachs bahkan memperingatkan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga mencapai 120 dolar AS per barel apabila serangan terhadap jalur pelayaran di Timur Tengah terus mengintensifikasi. Di sisi suplai dasar, pasokan global tetap ketat karena aliansi OPEC+ terus menahan laju peningkatan produksinya, membuat pasar menjadi sangat sensitif terhadap gangguan pasokan sekecil apa pun yang muncul dari kawasan konflik.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang melesat ke level 94,41 dolar AS per barel telah mengonfirmasi breakout dari level psikologis 90 dolar AS per barel, menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut. Selama harga mampu bertahan di atas pivot point, momentum bullish berpeluang berlanjut menuju resistance 1 di kisaran 96,00 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area psikologis 98,50 dolar AS per barel apabila serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk terus berlanjut. Sebaliknya, apabila muncul aksi ambil untung setelah lonjakan tajam ini, support 1 berada di kisaran 92,80 dolar AS per barel sebagai bantalan jangka pendek, dengan support 2 di area 91,00 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga mendekati ambang psikologis 100 dolar AS per barel setelah menyentuh level tertinggi harian di 99,22 dolar AS per barel, pivot point harian berada di kisaran 99,00 dolar AS per barel. Penembusan resistance 1 di level psikologis 100,00 dolar AS per barel berpotensi membuka jalan menuju resistance 2 di area 103,00 dolar AS per barel, sejalan dengan proyeksi kenaikan lebih lanjut yang disampaikan Goldman Sachs apabila gangguan pelayaran terus memburuk. Sementara itu, support 1 berada di kisaran 97,50 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 95,80 dolar AS per barel sebagai batas pertahanan apabila muncul sinyal perbaikan arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi, realisasi ancaman “perang ekonomi” dari Iran terhadap Amerika Serikat, tingkat pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta sikap OPEC+ terkait kebijakan produksi di tengah proyeksi Goldman Sachs yang membuka kemungkinan harga minyak menembus level 120 dolar AS per barel apabila eskalasi terus berlanjut.