Rekomendasi Harga Gula 8 September 2026

37

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional terpantau bergerak menguat signifikan pada perdagangan hari Selasa, ditopang oleh meluasnya kekhawatiran terhadap ancaman defisit pasokan global yang parah akibat cuaca ekstrem serta pergeseran kebijakan negara produsen.

Perdagangan kontrak berjangka gula mentah dunia acuan di bursa ICE New York saat ini bergerak naik sekitar 2,09 persen ke kisaran 19,04 sen dolar AS per pon. Komoditas pemanis ini tengah menikmati reli penguatan yang solid dan sempat menyentuh level tertinggi dalam enam belas bulan terakhir. Secara akumulatif, harga gula dunia tercatat telah melonjak lebih dari 20 persen sepanjang tahun 2026 ini.

Melesatnya harga gula mentah dunia didorong oleh sejumlah gangguan serius pada sisi suplai. Thailand sebagai eksportir gula terbesar kedua di dunia memproyeksikan bahwa hasil produksi gula untuk musim 2026 hingga 2027, yang akan dimulai pada bulan Oktober ini, dipastikan anjlok lebih dari 17 persen hingga menyentuh angka di bawah 10 juta ton. Penurunan drastis ini dipicu oleh cuaca kering ekstrem sebagai imbas dari fenomena Super El Nino, yang secara instan langsung memperketat ekspektasi pasokan global.

Tekanan terhadap ketersediaan pasokan semakin diperberat oleh situasi di India. Sebagai konsumen gula terbesar di dunia, India terpaksa mengubah kebijakannya dengan mengotorisasi impor gula mentah bebas bea. Langkah India yang beralih peran dari eksportir utama menjadi pembeli bersih di pasar internasional ini terpaksa dilakukan akibat penyusutan panen domestik yang diserang oleh penyakit tanaman. Pergeseran status India ini secara otomatis langsung memicu lonjakan permintaan di pasar internasional.

Ancaman ketatnya pasokan juga melanda wilayah barat. Data terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat pada awal September melaporkan bahwa sebanyak 77 persen tanaman tebu dan bit gula di Amerika Serikat kini tumbuh dalam kondisi kekeringan, meningkat dari pekan sebelumnya.

Sementara itu, efek rambatan dari lonjakan harga minyak mentah global turut memberikan katalis penguatan harga gula. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat harga minyak mentah Brent bertengger kuat di kisaran 97 hingga 99 dolar AS per barel memberikan insentif ekonomi yang besar bagi produsen utama seperti Brasil. Pabrik-pabrik di Brasil cenderung mengalihkan pemrosesan tebu menjadi bahan bakar nabati etanol ketimbang memproduksinya menjadi gula kristal. Pengalihan ini secara langsung memangkas volume ekspor gula dunia.

Menyadari adanya proyeksi defisit pasokan gula global yang diperkirakan mencapai kisaran 1,3 juta hingga 3,3 juta metrik ton untuk periode mendatang, para manajer dana investasi dan spekulator pasar merespons dengan cepat. Mereka secara masif menambah posisi beli pada pasar berjangka, di mana masuknya aliran dana spekulatif ini ikut menjadi motor penggerak yang mempercepat laju reli kenaikan harga gula saat ini.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi terus melanjutkan tren penguatan yang kuat seiring dengan ancaman cuaca yang merata di wilayah produsen utama dunia mulai dari Asia, Eropa, hingga Amerika. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran resistance terdekat di 19,25 hingga 19,45. Namun apabila terjadi koreksi teknis akibat aksi ambil untung jangka pendek, pergerakan harga akan mengarah pada kisaran support 18,80 hingga 18,60.