Indeks Kospi Selasa Ditutup Melemah; Saham Samsung dan SK Hynix Merosot

42
kospi korsel

(Vibiznews – Index) Bursa saham Korea Selatan melewati sesi perdagangan yang cukup bergejolak pada penutupan hari ini, Selasa, 15 September 2026. Indeks KOSPI resmi ditutup melemah, menandai tren penurunan dalam empat sesi berturut-turut.

Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (Kospi) ditutup turun 57,11 poin, atau melemah 0,85 persen, dan berakhir pada level 6.627,26. Indeks sempat dibuka melemah di level 6.659,25 pada pagi hari, sempat naik ke level tertinggi harian di 6.715,46 berkat aksi beli ritel, namun akhirnya terseret jatuh ke zona merah oleh aksi jual bersih masif dari investor asing dan institusi hingga menyentuh level penutupan terendahnya.

Faktor penekan utama hari ini adalah kepanikan investor di pasar surat utang. Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun meroket melampaui ambang batas psikologis 5,00 persen, titik tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan yield ini menjadi musuh utama pasar ekuitas karena menaikkan biaya pinjaman global secara drastis dan memicu arus keluar dana asing.

Pasar ekuitas Seoul dibebani oleh aksi kabur modal, dengan investor asing mencatatkan nilai jual bersih yang sangat besar, mencapai 1,57 triliun won, yang kemudian diikuti oleh langkah defensif dari investor institusi domestik. Sentimen negatif juga meluas setelah investor mencerna ketidakpastian makro serta adanya seruan terbaru dari para pemimpin industri kecerdasan buatan global yang menyarankan agar sektor teknologi memperlambat laju pengembangan infrastruktur mereka. Hal ini langsung memicu kekhawatiran seputar kelayakan siklus investasi AI, sehingga saham-saham semikonduktor raksasa penopang bursa Korea Selatan seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kembali tertekan hebat.

Ketegangan geopolitik yang memicu gangguan jalur pipa membuat minyak mentah Brent melonjak mendekati USD 105 per barel. Bagi Korea Selatan yang merupakan negara importir energi murni, kenaikan harga minyak ini langsung menambah beban inflasi manufaktur dan memperlemah nilai tukar mata uang won yang tertekan di kisaran 1.347 per dolar AS. Rilis risalah pertemuan Bank of Korea hari ini juga menunjukkan bahwa keputusan kenaikan suku bunga berturut-turut menjadi 3,00 persen pada Agustus lalu diwarnai perdebatan sengit, sehingga adanya keretakan atau perbedaan pandangan kebijakan di internal bank sentral ini menimbulkan ketidakpastian baru mengenai arah pengetatan moneter ke depan.

Meski demikian, penurunan KOSPI yang lebih dalam berhasil diredam berkat adanya aksi perburuan saham murah oleh kelompok investor ritel domestik, yang mengupayakan akumulasi beli bersih di zona bawah melampaui 340 miliar won, sehingga sedikit menahan laju pelemahan indeks pada penutupan perdagangan hari ini.