(Vibiznews – Commodity) Harga gula di bursa komoditi berjangka internasional berakhir melemah terbatas pada penutupan perdagangan hari Rabu, tertekan oleh sentimen dari pasar mata uang dan energi, meskipun laju penurunannya berhasil ditahan oleh kekhawatiran pasokan jangka panjang.
Harga kontrak berjangka gula mentah dunia acuan di bursa ICE New York ditutup melemah 0,3 persen ke level 17,88 sen per pon. Sepanjang sesi perdagangan semalam, harga komoditas pemanis ini sempat bergerak fluktuatif dalam rentang harian antara 17,68 hingga 17,97 sen per pon. Sejalan dengan pelemahan di New York, harga gula kristal putih di bursa London turut ditutup menyusut 0,46 persen ke level 523,90 dolar AS per metrik ton.
Tekanan utama yang membebani pasar gula datang dari lonjakan indeks Dolar AS pasca rilis hasil rapat kebijakan Federal Reserve yang bernada hawkish. Penguatan mata uang dolar ini mendorong para pengelola dana komoditas untuk melakukan aksi jual guna mengamankan keuntungan atau long liquidation. Kuatnya dolar membuat komoditas gula menjadi lebih mahal bagi para pembeli internasional yang bertransaksi menggunakan mata uang lain, yang pada akhirnya dapat menekan volume permintaan global.
Selain faktor mata uang, anjloknya harga minyak mentah dunia yang merosot sekitar 3 persen pada perdagangan semalam ikut memberikan sentimen negatif dan menyeret harga gula. Penurunan harga minyak bumi membuat produksi bahan bakar nabati etanol yang berbasis tebu menjadi kurang bernilai ekonomis bagi pabrik-pabrik penggilingan, khususnya di Brasil dan India. Kondisi tersebut memicu pabrik untuk mengalihkan lebih banyak hasil panen tebu agar diproduksi menjadi gula kristal ketimbang etanol, sebuah langkah yang berpotensi menambah limpahan pasokan gula di pasar dunia.
Meski menghadapi tekanan ganda dari pasar makro, koreksi harga gula berhasil tertahan dan tidak merosot terlalu dalam berkat fundamental sisi suplai yang masih sangat ketat. Laporan dari Organisasi Gula Internasional tetap memberikan bantalan kuat bagi pasar dengan memproyeksikan bahwa neraca gula dunia akan mengalami defisit sebesar dua ratus ribu metrik ton untuk musim 2026 hingga 2027. Ancaman cuaca ekstrem dari fenomena El Nino yang membayangi ladang tebu di India dan Thailand, ditambah dengan laporan hasil panen bit gula di Prancis yang diperkirakan mendekati rekor terendah sejak tahun 1970-an, menjaga kekhawatiran pasar terhadap kelangkaan pasokan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi bergerak konsolidatif dengan kecenderungan tertekan apabila sentimen penguatan dolar AS dan pelemahan harga energi terus mendominasi pasar. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support di 17,65-17,50. Namun apabila kembali mendapat dorongan beli teknikal yang ditopang isu pasokan global, harga akan berbalik mengarah pada kisaran resistance 18,05-18,25.








