Harga Minyak Sesi Asia Senin Turun Terpicu Harapan Negosiasi AS-Iran

115

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah turun dalam perdagangan di Asia pada hari Senin, 2 November 2026, seiring meredanya kekhawatiran langsung mengenai gangguan pasokan lebih lanjut, menyusul harapan akan adanya kemajuan dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel dengan Iran.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Desember 2026, merosot 2,37% menjadi $`101,65 per barel.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 2% menjadi `$111,15 per barel.

Penurunan ini terjadi setelah kenaikan tajam dalam sesi-sesi sebelumnya; absennya eskalasi besar selama akhir pekan serta berlanjutnya negosiasi mendorong sebagian investor untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Kedua kontrak tersebut mencatatkan kenaikan hampir 15% sepanjang bulan Oktober.

Menurut laporan Axios pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Sabtu menyatakan keinginannya untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pendekatan ini membuat Netanyahu khawatir, mengingat ia mendesak agar serangan AS kembali dilancarkan segera setelah pemilihan paruh waktu (midterm elections).

Prospek pembicaraan lebih lanjut memberikan sedikit kelegaan, namun pemilihan umum tetap menjadi risiko peristiwa utama, mengingat Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa tindakan militer bisa saja diambil jika negosiasi gagal.

Pejabat Iran dan Qatar telah melangsungkan diskusi selama tiga hari berturut-turut yang bertujuan untuk mengakhiri konflik. Teheran menyatakan tetap terbuka terhadap diplomasi sembari bersiap untuk mempertahankan diri, sementara Qatar berupaya menengahi sebuah usulan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi. Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk mempertahankan target produksi bulan Desember tanpa perubahan. Penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan besar tidak akan dilakukan sebelum tahun depan, mengingat konflik yang terus berlangsung masih mengganggu kegiatan ekspor.

Penurunan harga ini bisa jadi hanya bersifat sementara jika negosiasi menemui jalan buntu. Para analis memperingatkan bahwa eskalasi situasi setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat dapat mendorong harga minyak Brent mendekati level $`120 per barel.

Bahkan jika kesepakatan berhasil dicapai, kecepatan pemulihan aktivitas pengiriman dan ekspor minyak akan menjadi penentu seberapa cepat kekhawatiran mengenai pasokan dapat mereda.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat bergerak turun dengan harapan diplomasi untuk menyelesaikan konflik AS-Iran. Namun serangan terhadap kapal di Hormuz, kemungkinan serangan AS setelah pemilu, dan sikap keras Iran menopang harga akan dapat menaikkan harga minyak.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS (kontrak Desember) diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $102,70-$101,29. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $105,26-$106,41.

Harga minyak mentah berjangka Brent (kontrak Januari) diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $111,54-$109,66. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance `$114,80-$116,18.