Rekomendasi Harga Gula 4 November 2026

66

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir merosot pada hari Selasa, 3 November 2026.

Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup turun 0,73 sen atau 3,83% pada 18,33 sen per pon. Harga dibuka di 19,05, lalu terus tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 18,31, dengan volume perdagangan sekitar 128.700 lot. Penutupan ini berada di bawah titik awal reli Oktober (penutupan 1 Oktober di 18,94) dan turun sekitar 13% dari penutupan tertinggi 21,13 pada 15 Oktober. Pada perdagangan gula putih London, harga dibuka dengan gap turun dari level tertinggi 520,60 dolar AS per ton dan terjebak dalam kisaran sempit di sekitar 514 dolar, dengan pemulihan terbatas hanya hingga 517,80.

Faktor utama yang menekan harga adalah aksi jual dana spekulatif yang semakin agresif. Pembelian dari konsumen secara bertahap di level bawah terserap cepat oleh arus jual, sehingga harga menyentuh 18,39 hanya satu jam setelah pasar dibuka. Tidak ada tanda pemulihan menjelang penutupan, bahkan tekanan jual tambahan pada menit-menit akhir mendorong harga ke level terendah harian. Berdasarkan laporan Commitment of Traders per 27 Oktober, spekulan memangkas 47.700 lot posisi beli dan 6.900 lot posisi jual, sehingga posisi beli bersih turun 40.700 lot menjadi 180.700 lot. Di sisi lain, produsen memangkas 26.600 lot posisi jual dan pengguna akhir menambah 13.300 lot posisi beli. Dari sisi eksternal, indeks dolar AS menguat ke kisaran 101,9 dan imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik ke sekitar 4,95% setelah data lowongan kerja AS melampaui perkiraan, sementara harga minyak turun ke level terendah empat pekan dengan WTI di sekitar 96 dolar AS dan Brent di sekitar 103,6 dolar AS per barel.

Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menahan ruang penurunan harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi Brasil menjadi 42,2 juta metrik ton dan India menjadi 29,5 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton, sehingga ruang penguatan lanjutan relatif terbatas.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah, seiring berlanjutnya likuidasi posisi beli spekulatif, penguatan dolar AS, dan lemahnya minat beli di pasar gula putih. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 18,31 hingga 18,00. Namun, apabila ancaman El Nino dan defisit pasokan kembali memicu aksi beli teknikal, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 18,55 hingga 19,06.