(Vibiznews – Forex) Kontrasnya the Fed AS dengan BoE Inggris tetap berlanjut, meskipun sikap the Fed yang sudah mulai kurang agresif dengan outlook ekonomi Inggris yang semakin memburuk memperlebar jurang perbedaan baik secara kebijakan moneter maupun secara makro ekonomi. Pada minggu lalu GBP/USD semula masih cukup tangguh menghadapi kekuatan dollar AS, sebelum akhirnya tumbang ke kerendahan selama 22 bulan di bawah 1.2300. Pasangan matauang ini mencetak kerugian mingguan selama tiga kali berturut-turut. Pada minggu ini perhatian beralih kepada data makro ekonomi inflasi AS dan GDP kuartalan Inggris.
Setelah turun signifikan dari 1.2888 ke 1.2573, memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu, GBP/USD terus berada di bawah tekanan bearish dengan menguatnya dolar AS secara luas dan konsisten. Beberapa kali GBP/USD berusaha naik ke atas menembus 1.2550 namun segera mendapatkan tekanan turun kembali ke bawah 1.2550. Mengakhiri minggu lalu, GBP/USD sempat diperdagangkan turun di bawah 1.2350 di sekitar 1.2313, sebelum akhirnya berhasil naik ke 1.2333 karena berkurangnya kekuatan dolar AS.
Pada hari Senin GBP/USD semula berhasil naik ke atas 1.2550 dan diperdagangkan disekitar 1.2566, mengabaikan memuncaknya kekuatiran akan pertumbuhan ekonomi Cina yang menekan sentimen pasar. Meskipun demikian bertolak belakangnya kebijakan moneter the Fed dengan BoE telah membuat pasangan matauang GBP/USD kembali tertekan turun ke sekitar 1.2530 di tengah persoalan Brexit yang baru. Dolar AS menyambut keengganan terhadap resiko dan yields obligasi AS menguat menjelang pertemuan the Fed yang hawkish.
Federal Reserve AS direncanakan akan membuat keputusan mengenai tingkat bunga pada hari Rabu dan telah mengunci dirinya sendiri kepada siklus kenaikan tingkat bunga yang agresif selama tiga kali pertemuan yang akan datang. Pasar telah memperhitungkan dalam harga kenaikan tingkat bunga sebanyak 275 basis poin selama 12 bulan ke depan sehingga tingkat bunga the Fed bisa sampai mendekati 3.25%.
Dari Inggris, ekspektasi pengetatan oleh Bank of England sedikit melemah. Pasar swaps memperhitungkan pengetatan berupa kenaikan 175 bps selama 12 tahun ke depan pada saat ini, dibandingkan dengan perkiraan pengetatan berupa kenaikan 200 bps pada awal dari minggu ini.
Pada jam perdagangan sesi Eropa, GBP/USD memperoleh kembali daya tariknya dan diperdagangkan naik ke sekitar 1.2540, setelah sempat jatuh di bawah 1.2500 pada awalnya. Munculnya tekanan jual yang baru terhadap dollar AS telah mendorong pasangan matauang ini naik pada paruh kedua perdagangan hari Selasa.
Namun pada jam perdagangan selanjutnya di sesi AS, GBP/USD kehilangan momentum pemulihannya dan menghapus sebagian keuntungan hariannya diperdagangkan turun di sekitar 1.2520 dengan pelemahan USD berkurang karena munculnya data ekonomi AS, Factory Orders dan JOLTS Job Openings yang bagus.
GBP/USD turun menembus 1.2500 ke sekitar 1.2492 pada hari Rabu dengan berkurangnya pelemahan dollar AS setelah keluar data employment AS sektor swasta.
ADP mengatakan bahwa hanya 247.000 pekerjaan yang diciptakan pada bulan April. Angka ini meleset dari yang diperkirakan dimana konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan pekerjaan sebanyak 382.000.
Fokus pasar minggu lalu ada pada pertemuan Federal Reserve Open Market Committee (FOMC) AS yang dimulai pada hari Selasa pagi dan berakhir hari Rabu sore waktu AS. Pasar percaya the Fed akan menaikkan tingkat bunga kunci AS sebesar 0.5%, di tengah inflasi dengan level tertinggi dalam 40 tahun.
Setelah naik lebih dari 100 pips pada hari Rabu, GBP/USD kehilangan daya tariknya dan turun ke area 1.2550 pada hari Kamis pagi. Pada hari Kamis malam GBP/USD melanjutkan penurunannya, jatuh secara signifikan ke bawah 1.2400 meskipun BoE memutuskan menaikkan tingkat bunganya.
Pada hari Kamis, sebagaimana dengan yang telah diperkirakan, BoE menaikkan tingkat bunga kunci sebesar 25 basis point sehingga membuat tingkat bunga bank sentral Inggris berada di 1%, level tertinggi dalam 13 tahun.
Meskipun BoE menaikkan tingkat suku bunganya, namun GBP/USD turun tajam karena kenaikan tingkat bunga BoE dipandang dovish dibandingkan dengan kenaikan dari tingkat suku bunga the Fed sebesar 50 basis poin pada hari Rabu. Selain itu the Fed juga memberikan signal akan kenaikan tingkat suku bunga yang lebih agresif pada waktu yang akan datang. Sementara Gubernur BoE Bailey memberikan komentar yang berhati-hati ke depannya membebani Poundsterling dengan berat.
GBP/USD bertemu dengan tekanan bearish yang baru pada paruh kedua perdagangan hari Jumat dan turun ke bawah 1.2350 di sekitar 1.2313. Walaupun dollar AS sempat melemah sebagai reaksi awal dari laporan Non-Farm Payrolls AS, indeks dollar AS berhasil menghapus kerugiannya di tengah sentimen pasar yang memburuk.
GBP/USD sempat pulih setelah jatuh ke level terendah dalam hampir dua tahun di bawah 1.2300 pada awal hari Jumat. Namun pasangan matauang ini tidak bisa pulih dengan kuat dalam jangka pendek setelah pada hari Kamis keluar peringatan yang suram dari Bank of England (BoE) akan terjadinya resesi. GBP/USD sempat diperdagangkan turun di bawah 1.2350 di sekitar 1.2313, sebelum akhirnya berhasil naik ke 1.2333 karena berkurangnya kekuatan dolar AS.
Outlook yang suram dari BoE menunjukkan akan bertolak belakangnya kebijakan moneter ke depannya antara the Fed yang masih di dalam jalur akan menaikkan tingkat bunga sebesar 50 bps pada pertemuan berikutnya. Hal ini membuat outlook fundamental masih berpihak kepada dollar AS dibandingkan dengan Poundsterling sehingga akan membatasi kenaikan GBP/USD.
Laporan pekerjaan AS bulan April menunjukkan bahwa angka pekerjaan Non-Farm naik sebesar 428.000. Angka ini lebih tinggi daripada yang diperkirakan kenaikan sebesar 400.000 dan hampir sama dengan kenaikan bulan Maret sebesar 431.000. Sementara tingkat pengangguran bulan April tidak berubah di 3.6%.
Setelah minggu yang dramatis pada minggu lalu yang didominasi oleh event-event dari bank sentral, pasar pada minggu ini fokus kepada data ekonomi yang akan keluar dari AS yaitu data inflasi dan data ekonomi yang akan keluar dari Inggris yaitu data GDP Inggris selain data ekonomi lainnya.
Sementara itu, pergerakan Pounsterling juga akan dipengaruhi oleh dinamika dari dollar AS dan perbedaan yang berseberangan antara the Fed dengan BoE.
Minggu ini dari Inggris akan dimulai dengan pidato dari pembuat kebijakan di BoE Michael Saunders pada hari Senin. Saunders bergabung dengan pejabat BoE lainnya yang hawkish yaitu Catherine Mann dan Jonathan Haskel yang mengambil suara untuk kenaikan 50 bps pada pertemuan kebijakan BoE pada hari Kamis minggu lalu.
Pada hari Kamis, akan dirilis data GDP Inggris kuartal pertama dan data Produksi Manufaktur. Data ekonomi ini akan memberikan dampak yang signifikan terhadap Poundsterling, dengan adanya peringatan dari BoE mengenai stagflasi.
Dari AS, minggu ini, data ekonomi yang kritikal untuk diperhatikan adalah angka inflasi AS bulan April. Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan AS di bulan April akan turun ke 8.1% setelah naik ke 8.5% di bulan Maret.
Harga inflasi konsumen yang terefleksi di dalam angka Consumer Price Index (CPI) adalah angka kunci untuk mengukur inflasi AS minggu ini dan diharapkan sudah melewati puncaknya. Turunnya harga minyak mentah akan sangat membantu.
Resiko yang signifikan adalah semakin panjangnnya problem rantai supply dan perang di Ukraina yang terus berlangsung yang menyeret turun pertumbuhan ekonomi global. Selain itu Cina tidak mau bergeming dengan kebijakan zero Covid-nya. Ini adalah outlook yang sulit bagi inflasi yang kemungkinan tidak akan bisa turun secara signifikan.
Selain data CPI yang akan keluar pada hari Rabu, AS akan mempublikasikan data Jobless Claims dan Producer Price Index (PPI) pada hari Kamis dan Michigan consumer sentiment pada hari Jumat serta pidato dari pembuat kebijakan the Fed Loretta Mester.
“Support” terdekat menunggu di 1.2300 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2200 dan kemudian 1.2170. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2400 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2460 dan kemudian 1.2500.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.



