(Vibiznews-Kolom) Di atas kertas, mereka termasuk kalangan yang paling makmur di Amerika. Gaji tahunan mencapai 250.000 dolar atau lebih, properti di pinggiran kota yang mahal, anak-anak di sekolah swasta, dan akun pensiun yang cukup terisi. Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari mereka tidak merasa kaya. Justru, sebagian besar mengatakan bahwa mereka hidup “pas-pasan”, penuh tekanan keuangan, dan masih jauh dari rasa aman finansial.
Fenomena ini merepresentasikan ironi baru dalam ekonomi Amerika pasca-pandemi. Ketika inflasi konsumen, suku bunga kredit, dan harga rumah mencapai titik tertinggi dalam satu dekade terakhir, kelompok berpendapatan tinggi—yang secara statistik berada dalam 10 persen teratas—mengalami disonansi psikologis yang tajam antara angka dan realitas. Mereka adalah para dokter, pengacara, eksekutif menengah, insinyur teknologi, dan profesional yang sering diasumsikan sebagai “kelas atas”. Tetapi banyak dari mereka kini merasa tidak lebih stabil dibandingkan kelas menengah yang mereka tinggalkan secara statistik.
Menurut laporan The Wall Street Journal, lebih dari setengah rumah tangga dengan pendapatan tahunan antara 250.000 hingga 500.000 dolar mengaku merasa hidup dari gaji ke gaji, terutama di kota-kota besar seperti San Francisco, New York, Los Angeles, Boston, dan Washington D.C. Di tempat-tempat ini, biaya hidup telah melampaui angka penghasilan yang secara nasional dianggap elit.
Biaya rumah di wilayah perkotaan utama telah naik dua hingga tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Di San Francisco, harga rumah rata-rata kini lebih dari 1,3 juta dolar. Sekalipun seseorang berpenghasilan 300.000 dolar setahun, cicilan rumah, pajak properti, asuransi, dan pemeliharaan dapat menghabiskan lebih dari 40 persen penghasilan mereka. Ini belum termasuk biaya penitipan anak, pendidikan swasta, transportasi, dan kontribusi pensiun.
Salah satu keluarga yang diwawancarai dalam laporan tersebut adalah pasangan profesional di wilayah D.C. dengan penghasilan gabungan sekitar 280.000 dolar. Mereka membayar hipotek 4.500 dolar per bulan, sekolah anak 2.500 dolar, serta memiliki utang pinjaman mahasiswa dan kendaraan. Pada akhir bulan, hampir tidak ada yang tersisa. Mereka tidak punya jet pribadi, tidak ada kapal layar, bahkan tidak punya dana untuk liburan ke Eropa setiap musim panas—hal-hal yang sering dikaitkan dengan stereotip orang kaya.
Perasaan tidak cukup ini diperkuat oleh relativitas sosial. Orang-orang dengan penghasilan tinggi tidak membandingkan diri mereka dengan rata-rata nasional, melainkan dengan lingkungan sekitar. Di komunitas kelas atas, gaya hidup meningkat sesuai norma kelompok, lebih besar, lebih mahal, lebih eksklusif. Seorang profesional yang mengendarai Toyota Camry akan merasa “ketinggalan” jika semua tetangganya memakai Tesla atau Range Rover. Maka, tekanan untuk menjaga penampilan status menjadi sumber pengeluaran tersendiri.
Fenomena ini dikenal dalam ekonomi sebagai lifestyle creep, di mana peningkatan penghasilan justru diikuti dengan peningkatan pengeluaran yang sebanding atau lebih besar. Ketika seseorang naik gaji, mereka tidak serta-merta menabung lebih banyak, tetapi membeli rumah lebih besar, merenovasi dapur, atau mendaftarkan anak ke kegiatan ekstrakurikuler mahal. Alhasil, tekanan keuangan tetap ada meskipun angka penghasilan naik.
Survei dari Bank of America juga menunjukkan bahwa 45 persen rumah tangga dengan penghasilan di atas 250.000 dolar mengaku tidak bisa memenuhi biaya darurat sebesar 10.000 dolar tanpa menjual aset atau menarik dari investasi jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kendati kaya secara pendapatan, banyak dari mereka yang tidak kaya secara likuiditas.
Pakar keuangan menyebut kelompok ini sebagai high income, low wealth. Mereka menghasilkan banyak, tetapi memiliki sedikit kekayaan bersih karena gaya hidup yang menyerap hampir seluruh pendapatan mereka. Ini menjadi tantangan tersendiri karena mereka sering kali tidak memenuhi syarat untuk bantuan pemerintah, tetapi juga tidak cukup nyaman untuk merasa aman secara finansial.
Dalam banyak kasus, pendidikan tinggi dan karier profesional justru datang bersama beban utang yang tinggi. Pinjaman mahasiswa untuk sekolah hukum atau kedokteran bisa mencapai ratusan ribu dolar. Kombinasi dari gaji tinggi dan utang besar menciptakan semacam ilusi kesejahteraan yang rapuh. Banyak yang berhasil naik secara vertikal, tetapi tidak pernah membangun pondasi finansial yang kokoh.
Faktor lain yang memperburuk situasi adalah ekspektasi antar-generasi. Banyak dari kelompok ini kini menjadi orang tua, dan mereka ingin memberikan “yang terbaik” untuk anak-anak mereka—pendidikan, kesehatan, liburan, pengayaan. Tetapi “yang terbaik” sering kali berarti “yang paling mahal”. Maka, biaya kehidupan sehari-hari terus meningkat seiring aspirasi mereka terhadap masa depan keluarga.
Selain itu, investasi juga menjadi sumber stres. Di tengah volatilitas pasar dan kenaikan suku bunga, portofolio investasi tidak lagi menghasilkan seperti dekade sebelumnya. Saham, obligasi, dan bahkan properti kini memberikan imbal hasil yang lebih fluktuatif. Hal ini menciptakan ketidakpastian tambahan bagi mereka yang merasa hidup terlalu bergantung pada stabilitas pasar finansial.
Secara budaya, media sosial turut memperparah persepsi “kurang kaya” ini. Platform seperti Instagram dan TikTok memamerkan kehidupan orang-orang ultra-kaya secara terus-menerus, sehingga standar tentang apa yang dianggap “cukup” menjadi bias. Jika seseorang yang berpenghasilan 300.000 dolar melihat selebritas atau influencer liburan di Maladewa setiap tiga bulan, mereka bisa merasa gagal, meskipun kenyataannya mereka ada di 5 persen teratas dari segi penghasilan nasional.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar tentang arti kekayaan di dunia modern. Apakah kekayaan ditentukan oleh angka? Oleh gaya hidup? Oleh rasa aman? Atau hanya relatif terhadap orang lain? Dalam ekonomi tradisional, pendapatan dianggap indikator utama kesejahteraan. Tetapi dalam realitas kontemporer, faktor-faktor seperti utang, lokasi geografis, ekspektasi sosial, dan tekanan status berperan sama besar.
Sebagian ekonom mulai mengusulkan pendekatan baru dalam mengukur kesejahteraan finansial, termasuk menggabungkan faktor-faktor seperti volatilitas pendapatan, kestabilan rumah tangga, dan kapasitas menghadapi kejutan ekonomi. Di tengah transformasi besar dalam cara orang hidup dan bekerja, indikator lama seperti “top 10 persen” mungkin tidak lagi cukup akurat untuk menggambarkan kenyataan.
Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat berdampak pada kesehatan mental, kepuasan hidup, dan keputusan ekonomi yang lebih besar. Banyak dari mereka yang merasa harus terus bekerja keras dan mempertahankan gaya hidup tertentu, meskipun sebenarnya mengorbankan waktu bersama keluarga, kesehatan, atau kualitas hidup. Ironisnya, bagi sebagian orang, naik ke atas berarti kehilangan kendali atas hidup mereka sendiri.
Fenomena ini juga berdampak pada politik dan kebijakan publik. Kelompok penghasilan tinggi yang tidak merasa kaya cenderung menolak pajak progresif, tetapi juga tidak merasa diwakili oleh program sosial pemerintah. Mereka terjebak di tengah—terlalu kaya untuk mendapat bantuan, terlalu terbebani untuk dianggap nyaman. Ini menciptakan ketegangan sosial baru dalam masyarakat Amerika yang semakin terfragmentasi secara ekonomi.
Meski demikian, beberapa pakar menyarankan bahwa solusi mungkin terletak pada perubahan mindset, bukan hanya kebijakan. Mengelola ekspektasi, hidup di bawah kemampuan, dan menghindari gaya hidup kompetitif bisa membantu menciptakan rasa cukup yang lebih stabil. Pada akhirnya, rasa kaya adalah konstruksi psikologis yang tak selalu berbanding lurus dengan angka penghasilan.



