(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit atau CPO acuan dunia melonjak ke level tertinggi sejak awal April pada perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Jumat (24/7/2026), didorong oleh penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian, melemahnya nilai tukar ringgit, serta kenaikan harga minyak mentah di tengah berlanjutnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan contract for difference (CFD) yang melacak pasar acuan komoditas ini, harga minyak sawit menguat 1,17% dari hari sebelumnya ke posisi MYR4.765 per metrik ton. Pergerakan harga kontrak berjangka yang sempat stabil di sekitar MYR4.750 ini berhasil memperpanjang tren keuntungan baru-baru ini. Selama sebulan terakhir, harga CPO telah naik 4,56%, dan tercatat melonjak 11,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai catatan historis, harga CPO pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level MYR7.268 per ton pada bulan Maret 2022.
Secara mingguan, pasar CPO berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan minggu ketiga berturut-turut, dengan apresiasi sekitar 3,3% sejauh pekan ini. Sentimen positif ini sangat ditopang oleh kebijakan mandatori biodiesel yang lebih tinggi di Indonesia dan Malaysia. Khususnya di Indonesia, masa transisi implementasi biodiesel B50 diyakini akan secara signifikan menyerap pasokan domestik dan mendongkrak permintaan minyak sawit sebagai bahan baku utama biofuel.
Dari sisi ekspor, prospek permintaan di India, yang merupakan pembeli utama dunia, semakin membaik. Analisis pasar menunjuk pada potensi peningkatan impor minyak nabati antara bulan Juli hingga Oktober mendatang. Mengetatnya ketersediaan pasokan menjelang musim perayaan besar di negara tersebut diproyeksikan akan memicu lonjakan pembelian minyak sawit.
Dukungan tambahan bagi penguatan harga juga datang dari kekhawatiran terhadap faktor cuaca. Otoritas di Kuala Lumpur telah memberikan peringatan bahwa ancaman rekor suhu panas ekstrem dapat membebani dan menurunkan tingkat produksi pada tahun depan. Sementara itu, laporan pengiriman ekspor Malaysia untuk periode 1–20 Juli masih menunjukkan hasil yang bervariasi; surveyor kargo AmSpec Agri mencatat penurunan pengiriman sebesar 0,9% secara bulanan, sedangkan Intertek Testing Services (ITS) justru melaporkan adanya pertumbuhan ekspor sebesar 4,1%.








