Harga Gula Akhir Pekan Ditutup Turun Tipis Akibat Profit Taking

39
gula

(Vibiznews – Commodity) Harga gula dunia ditutup melemah tipis pada akhir pekan setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 15 bulan terakhir, tertekan oleh aksi ambil untung para pelaku pasar meskipun secara keseluruhan komoditas pemanis ini tetap berada dalam tren naik yang kuat akibat kekhawatiran krisis pasokan global.

Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar ICE NY-11 ditutup turun 0,22 sen atau 1,31 persen ke level 16,60 sen dolar AS per pon. Meski melemah pada perdagangan harian terakhir, harga gula mentah telah melonjak lebih dari 11,7 persen dalam sebulan terakhir. Sementara itu, harga gula putih refinasi atau white sugar ICE London #5 bergerak stabil menguat di kisaran 510,70 dolar AS per metrik ton. Kontrak gula putih bahkan mencatatkan kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut, seiring margin pengolahan atau refining margins yang berada di level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Sentimen utama yang membayangi pasar gula global saat ini datang dari proyeksi defisit yang terus membengkak. Lembaga analis komoditas global beramai-ramai memangkas prospek produksi, di mana Green Pool Commodity Specialists menaikkan perkiraan defisit gula global untuk musim 2026/2027 menjadi 3,3 juta metrik ton, akibat curah hujan ekstrem terkait anomali cuaca El Nino yang mengganggu aktivitas panen tebu di Brasil.

Kekhawatiran pasar turut diperparah oleh gangguan pasokan di India. Laporan Departemen Meteorologi India memperingatkan bahwa curah hujan monsun pada bulan Agustus dan September diperkirakan berada di bawah normal. Fenomena ini berpotensi menjadi musim monsun terlemah di India dalam 11 tahun terakhir, sehingga mengancam output ekspor dari produsen gula terbesar kedua dunia tersebut.

Di sisi lain, dilema alokasi tebu di Brasil turut menjadi sorotan pelaku pasar. Pabrik-pabrik penggilingan tebu di Brasil dilaporkan mengalihkan hampir 58 persen jus tebu mereka untuk produksi bahan bakar etanol, yang secara otomatis mengurangi alokasi bahan baku untuk produksi gula kristal komersial dan turut menekan pasokan gula di pasar global.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi bergerak dalam tren bullish jangka menengah meski rentan terkoreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Support 16,40-16,25. Namun, jika sentimen defisit pasokan global kembali menguat dan memicu aksi beli lanjutan, pergerakan berpotensi mengarah pada penguatan menuju kisaran Resistance 16,80-17,00.