Harga Kakao Akhir Pekan Berakhir Menguat Terbantu Penurunan Pasokan

53
kakao, pupuk, tanaman

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup menguat lebih dari 1 persen pada akhir pekan, seiring munculnya kekhawatiran baru mengenai penurunan pasokan global menjelang periode panen utama. Penguatan ini berhasil membalikkan tekanan aksi jual teknikal yang sempat menekan harga komoditas cokelat tersebut pada hari-hari sebelumnya.

Mengingat perdagangan bursa komoditas berjangka libur pada akhir pekan, posisi harga penutupan resmi yang berlaku merujuk pada sesi perdagangan Jumat malam. Kontrak kakao acuan dunia di ICE New York tercatat ditutup naik 67,00 dolar AS atau setara 1,17 persen ke level 5.786,00 dolar AS per metrik ton. Sepanjang sesi perdagangan, harga bergerak fluktuatif dalam rentang harian antara 5.609,00 hingga 5.813,00 dolar AS per metrik ton. Sementara itu, kontrak kakao di bursa London turut ditutup menguat di kisaran 4.133,00 poundsterling per ton.

Sentimen utama yang mendorong penguatan harga kakao datang dari pemangkasan tajam proyeksi surplus global oleh lembaga riset komoditas StoneX, yang memotong perkiraan surplus kakao musim 2026/2027 menjadi hanya 25.000 metrik ton dari perkiraan sebelumnya sebesar 149.000 metrik ton. Pemangkasan ini dipicu oleh meningkatnya risiko anomali cuaca El Nino yang berpotensi mengganggu wilayah perkebunan utama di Afrika Barat.

Kekhawatiran pasokan juga diperkuat oleh ancaman gagal panen di Pantai Gading, produsen kakao terbesar dunia. Survei awal terhadap tanaman kakao di negara tersebut menunjukkan perkembangan buah muda atau cherelle berada di bawah rata-rata akibat kurangnya sinar matahari, sehingga estimasi panen untuk musim yang dimulai bulan September mendatang diproyeksikan anjlok 18 persen menjadi sekitar 1,8 juta metrik ton dibandingkan musim sebelumnya. Senada dengan itu, badan regulator kakao Ghana, COCOBOD, juga memperkirakan produksi dalam negeri akan merosot setidaknya 16 persen pada musim 2026/2027 akibat kombinasi siklus alami penuaan pohon, serangan penyakit tanaman, serta maraknya aktivitas penambangan emas ilegal di lahan perkebunan.

Selain faktor fundamental pasokan, penguatan harga kakao turut mendapat dukungan dari pelemahan Indeks Dolar AS yang melandai setelah rilis data penjualan ritel yang mengecewakan. Kondisi ini memberikan angin segar bagi komoditas yang dinilai dalam mata uang dolar seperti kakao, karena membuatnya menjadi lebih murah bagi para pembeli internasional.

Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, harga komoditas biji kakao kering di tingkat petani terpantau relatif stabil di tengah fluktuasi pasar global. Di sejumlah sentra produksi seperti Aceh Tenggara, harga biji kakao kering stabil di kisaran 87.000 rupiah per kilogram. Adapun berdasarkan pantauan pasar komoditas nasional, harga biji cokelat kering kualitas reguler dibanderol rata-rata 100.000 hingga 109.500 rupiah per kilogram, sementara untuk varietas premium Grade A yang siap olah pabrikan harganya berkisar hingga 195.000 rupiah per kilogram tergantung pada tingkat kadar air dan wilayah distribusi.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan awal pekan selanjutnya masih berpotensi melanjutkan tren penguatan di tengah kekhawatiran defisit pasokan menjelang musim panen utama serta pelemahan dolar AS yang turut menopang minat beli. Apabila momentum penguatan berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 5.813 hingga 5.900 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila aksi ambil untung kembali muncul, harga berpotensi terkoreksi menguji kisaran support di 5.700 hingga 5.609 dolar AS per metrik ton.