Rekomendasi Harga Minyak 4 September 2026

49

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia bergerak menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (4/9/2026) pagi, berada di jalur menuju kenaikan mingguan tertajam sejak pertengahan Juli, akibat eskalasi ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan data pasar terbaru pagi ini, WTI merangkak naik ke posisi 91,56 dolar AS per barel, menguat 0,3 persen, sementara Brent naik ke level 95,67 dolar AS per barel, menguat 0,2 persen.

Pada penutupan perdagangan kemarin, Kamis (3/9/2026), harga minyak mentah ditutup bervariasi dengan kecenderungan stabil (flat), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam enam minggu terakhir di pertengahan sesi. Minyak Brent ditutup melemah tipis 11 sen atau 0,1 persen ke level 95,52 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level tertinggi harian di atas 97,29 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak WTI ditutup menguat 29 sen atau 0,3 persen ke posisi 91,30 dolar AS per barel, setelah sempat melonjak hingga 93,04 dolar AS per barel di puncak sesi perdagangan kemarin.

Secara fundamental, pergerakan naik harga minyak saat ini dipicu oleh akumulasi kecemasan pasokan energi global yang terus bertambah. Faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah perang yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, dengan rentetan serangan terbaru terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang kritis, ditambah serangan balasan dari AS, membuat lalu lintas kapal harian di jalur air tersebut tetap minim. Iran dilaporkan menambah daftar kapal non-kompeten untuk disita, yang memicu penurunan lalu lintas komersial dari rata-rata 13 kapal menjadi hanya 6 kapal per hari yang melintasi Selat Hormuz. Kondisi ini secara efektif memotong hampir 20 persen pasokan minyak harian dunia.

Sentimen pasar semakin diperparah oleh laporan militer Kuwait yang mencegat rudal dan drone yang menghantam wilayahnya, sebagai bagian dari aksi balasan konflik proksi di kawasan Teluk. Insiden ini membuat premi risiko perang (war-risk premium) kembali membengkak di benak para investor, mengingat konflik kini tidak lagi terbatas pada wilayah Iran maupun Selat Hormuz saja, melainkan mulai merembet ke negara-negara tetangga di sekitar Teluk Persia.

Selain faktor Timur Tengah, tekanan tambahan pada pasar energi datang dari eskalasi perang Ukraina yang menargetkan kilang-kilang minyak Rusia, memaksa Moskow melarang ekspor diesel hingga akhir September guna memenuhi kebutuhan domestiknya. Kebijakan ini memicu lonjakan harga produk turunan minyak (distilat) secara global, menambah tekanan pada rantai pasok energi dari sisi hilir di tengah ketatnya pasokan minyak mentah itu sendiri.

Meski pasokan sangat ketat, laju reli harga minyak sedikit tertahan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan yang masih dipertimbangkan sebagian pelaku pasar global, serta sikap wait and see menjelang rilis data tenaga kerja AS (Nonfarm Payrolls) yang dijadwalkan malam ini. Data tersebut berpotensi menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya, sehingga turut membatasi ruang kenaikan harga minyak lebih lanjut pada perdagangan hari ini.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang menguat ke level 91,56 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut, setelah mengonfirmasi kelanjutan tren bullish dari penutupan kemarin di 91,30 dolar AS per barel. Selama harga mampu bertahan di atas pivot point, momentum penguatan berpeluang berlanjut menuju resistance 1 di kisaran 92,50 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area psikologis 93,50 dolar AS per barel, sejalan dengan level tertinggi intraday yang sempat disentuh kemarin, apabila eskalasi konflik di Selat Hormuz terus memburuk. Sebaliknya, apabila data Nonfarm Payrolls malam nanti mengejutkan pasar dengan sinyal hawkish, support 1 berada di kisaran 90,50 dolar AS per barel sebagai bantalan jangka pendek, dengan support 2 di area 89,30 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga menguat ke level 95,67 dolar AS per barel, pivot point harian berada di kisaran level tersebut. Penembusan resistance 1 di kisaran 97,00 dolar AS per barel, yang mendekati level tertinggi harian kemarin di 97,29 dolar AS per barel, berpotensi membuka jalan menuju resistance 2 di area psikologis 100,00 dolar AS per barel, sebuah level krusial yang akan menjadi ujian besar berikutnya bagi tren bullish saat ini. Sementara itu, support 1 berada di kisaran 94,50 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 93,00 dolar AS per barel sebagai batas pertahanan apabila muncul sinyal de-eskalasi mendadak dari kawasan Teluk.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan blokade Selat Hormuz dan intensitas penyitaan kapal oleh Iran, potensi meluasnya konflik proksi ke negara-negara Teluk seperti Kuwait, kelanjutan larangan ekspor diesel Rusia, serta hasil rilis data Nonfarm Payrolls AS malam ini yang akan menjadi faktor penentu arah kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.