(Vibiznews – Commodity) Harga gula di bursa komoditi berjangka internasional pada perdagangan hari Jumat terpantau mengalami koreksi sehat, namun secara keseluruhan masih kokoh bertahan di sekitar level tertingginya dalam enam belas bulan terakhir. Secara akumulatif, harga komoditas pemanis ini telah membukukan lonjakan yang luar biasa hingga lebih dari 19 persen dalam sebulan terakhir akibat kuatnya sentimen kekhawatiran pasokan global.
Pada penutupan perdagangan Kamis malam, kontrak berjangka gula mentah acuan (ICE Sugar No. 11) di bursa New York ditutup merosot sekitar 3,37 persen ke level 18,07 sen per pon, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah harian di 17,65 sen per pon. Koreksi yang terjadi ini dinilai wajar oleh para analis sebagai dampak dari aksi ambil untung atau profit taking para pelaku pasar menyusul reli tajam yang telah berlangsung selama berminggu-minggu, di mana harga sempat menembus puncaknya di atas 18,70 sen pada awal pekan. Sementara itu, pergerakan harga gula putih di bursa London terpantau lebih stabil dan mampu bertahan di kisaran 529,40 hingga 540,60 dolar AS per metrik ton.
Kendati mengalami tekanan turun dalam rentang harian, tren pergerakan pasar gula dunia secara jangka panjang masih sangat didukung oleh proyeksi defisit pasokan global untuk musim 2026/2027. Sentimen bullish ini diperkuat oleh rilis data terbaru dari Organisasi Gula Internasional (ISO) yang memperkirakan bahwa pasar global akan berbalik arah dari surplus 1,1 juta ton menjadi defisit 200 ribu ton, dengan total produksi yang menyusut 1 persen. Bahkan, sejumlah lembaga analisis swasta memproyeksikan jurang defisit yang jauh lebih dalam hingga mencapai 3,2 juta metrik ton.
Ancaman penurunan pasokan ini menjadi semakin nyata akibat adanya gangguan cuaca berupa curah hujan yang tidak biasa di Thailand, Uni Eropa, dan beberapa wilayah India. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat ini secara langsung telah menghambat aktivitas panen dan penggilingan tebu, sehingga menekan kapasitas produksi dari negara-negara produsen papan atas dunia tersebut.
Di sisi lain, dinamika kebijakan industri dari negara-negara kunci turut mendikte arah pergerakan harga komoditas ini. Di Brasil yang berstatus sebagai produsen terbesar dunia, sebagian besar perasan tebu saat ini dialihkan untuk produksi bahan bakar etanol. Tingginya harga energi di tengah ketegangan geopolitik global membuat produksi etanol lebih menguntungkan, yang pada akhirnya memangkas porsi tebu untuk diolah menjadi gula kristal. Sementara itu, lonjakan harga gula dunia sedikit tertahan oleh langkah intervensi dari pemerintah India sebagai konsumen terbesar. India secara aktif menerapkan batas penyimpanan stok yang ketat, memajukan jadwal penggilingan, serta menerapkan mekanisme pelepasan kuota berkala demi meredam gejolak harga dan mencegah spekulasi di pasar domestiknya.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi terus bergerak fluktuatif seiring dengan tarik-menarik antara aksi ambil untung lanjutan dan fundamental pasokan yang ketat. Harga memiliki potensi kuat untuk kembali menanjak dan menguji level psikologis baru jika hambatan ketersediaan pasokan di Brasil dan India terus berlanjut. Harga gula diperkirakan akan bergerak menguji kisaran Support terdekat di 17,65-17,45. Namun apabila tekanan jual mereda dan harga kembali berbalik naik, pergerakan akan mengarah pada kisaran Resistance 18,70-19,00.








