Rekomendasi Harga Kakao 4 September 2026

57

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global terpantau bergerak dalam rentang konsolidasi pada perdagangan akhir pekan hari Jumat, berada di kisaran 6.130 hingga 6.300 dolar AS per metrik ton. Pasar kakao internasional saat ini sedang mengalami tingkat volatilitas yang tinggi seiring upaya para pelaku pasar dalam menyeimbangkan aksi ambil untung jangka pendek dengan ancaman nyata kembalinya defisit pasokan global akibat faktor cuaca ekstrem.

Pada akhir sesi perdagangan Kamis malam sebelumnya, bursa komoditas kakao internasional sempat mengalami pelemahan yang diakibatkan oleh tekanan jual secara teknis. Kontrak berjangka kakao di bursa ICE ditutup merosot 2,18 persen atau turun sekitar 136 poin ke level 6.136,44 dolar AS per metrik ton. Aksi ambil untung ini menghentikan laju reli tajam yang sebelumnya sempat membawa harga kakao mendekati level tertinggi sebelas bulan di kisaran 6.800 dolar AS. Penurunan ini banyak dipicu oleh rilisnya data pengiriman kilat pasokan di akhir musim dari Pantai Gading yang segera dimanfaatkan oleh para investor untuk mencairkan keuntungan.

Meskipun tengah mengalami koreksi teknis harian, tren fundamental pasar kakao untuk jangka menengah hingga panjang terpantau masih sangat didominasi oleh sentimen pendukung kenaikan harga. Ancaman defisit global akibat fenomena El Nino terus menjadi sorotan utama, di mana CEO pengolah kakao terbesar di Asia, Guan Chong Berhad, memperingatkan bahwa pasar akan menghadapi pembalikan arah dari surplus menjadi defisit sebesar 300.000 hingga 400.000 ton pada musim 2026/2027.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan kondisi riil di negara produsen. Dewan Kakao Ghana atau COCOBOD telah merilis hasil survei lapangan yang memperkirakan hasil panen musim baru hanya akan mencapai 650.000 metrik ton, merosot 13 persen dari perolehan tahun lalu. Kondisi serupa terjadi di Pantai Gading, di mana survei awal menunjukkan pembentukan bunga dan buah muda berada di bawah rata-rata akibat kurangnya sinar matahari, memicu proyeksi penurunan output panen utama hingga 18 persen menjadi 1,8 juta metrik ton.

Situasi di tingkat hulu ini juga diwarnai oleh kebijakan pemerintah Pantai Gading yang memutuskan untuk mempertahankan harga beli di tingkat petani sebesar 1.200 franc CFA per kilogram untuk musim panen utama. Keputusan ini dinilai mengecewakan sebagian petani di tengah pulihnya harga pasar global, yang berpotensi melemahkan motivasi mereka dalam melakukan perawatan lahan. Di sisi lain, laju kepanikan pasar sedikit berhasil diredam oleh pernyataan produsen cokelat raksasa seperti Mondelez International, yang mengonfirmasi bahwa persediaan inventaris kakao mereka saat ini masih mencukupi sebagai bantalan terhadap ancaman pengetatan pasokan jangka pendek.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, pasar kakao yang saat ini berada dalam fase transisi krusial menjelang dimulainya musim panen utama global pada bulan September berpotensi terus bergerak sangat fluktuatif. Harga kakao diperkirakan akan bergerak menguji level support di 6.130 hingga 6.000 dolar AS per metrik ton jika kembali tertekan. Namun jika kembali berbalik menguat merespons ancaman defisit pasokan, pergerakan harga akan mencoba menguji kisaran resistance di 6.300 hingga 6.450 dolar AS per metrik ton.