(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia acuan Brent dan WTI kembali melonjak tajam di atas 3% pada perdagangan pasar komoditas internasional hari Rabu (29/7/2026), berhasil membalikkan arah atau rebound dari penurunan masif sekitar 5% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Minyak acuan global jenis Brent melonjak 3,6% ke level US$87,13 per barel. Harga Brent terpantau bergerak fluktuatif setelah sempat jatuh ke level terendah harian di kisaran US$84,09 akibat sentimen diplomasi sehari sebelumnya, sebelum akhirnya meroket menembus level US$87 pada sore hari ini.
Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga 4,16% ke posisi US$82,56 per barel. Setelah ditutup melemah di level US$79,26 pada sesi kemarin, WTI dibuka menguat di US$80,04 dan bahkan sempat menyentuh harga tertinggi harian di US$83,30 per barel dengan volume perdagangan yang cukup tinggi.
Faktor utama yang memicu kepanikan pasar dan melambungkan harga minyak hari ini adalah pecahnya jeda diplomatik singkat yang sempat digagas oleh Presiden Donald Trump, menyusul eskalasi militer yang kembali memanas secara drastis di Timur Tengah.
Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan rudal balistik mendadak yang menargetkan basis militer AS di wilayah tersebut, termasuk pangkalan udara di Yordania. Meski seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara AS, insiden ini seketika mengembalikan premi risiko geopolitik ke dalam kalkulasi para investor.
Sebagai respons langsung atas eskalasi tersebut, pasukan militer AS yang bekerja sama dengan Arab Saudi melancarkan serangan udara presisi. Serangan ini menargetkan beberapa situs logistik dan persenjataan militer milik kelompok pro-Iran di Irak, yang dituduh bertanggung jawab atas rentetan serangan drone ke infrastruktur minyak Saudi dalam beberapa hari terakhir.
Ancaman terhadap pasokan global semakin nyata di jalur maritim. IRGC mengeklaim telah menyergap dan menghentikan tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz karena dianggap melanggar rute pelayaran. Bersamaan dengan itu, kelompok Houthi di Yaman terus melanjutkan ancaman blokade maritim dengan meluncurkan rudal ke arah tanker minyak Saudi di Laut Merah. Rangkaian peristiwa ini mengancam jalur distribusi yang menampung hampir sepertiga lalu lintas minyak dunia.
Dari sisi fundamental pasokan internal AS, harga mendapat dorongan bullish yang sangat kuat menyusul laporan American Petroleum Institute (API). Stok minyak mentah AS dilaporkan menyusut tajam sekitar 3,3 juta barel pada pekan lalu.
Kekhawatiran pelaku pasar akan ketatnya likuiditas pasokan fisik semakin memuncak karena cadangan minyak strategis AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR) dilaporkan ikut terkuras sebanyak 3,7 juta barel. Angka ini menjerumuskan cadangan strategis AS ke level terendahnya sejak Maret 1983.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan kuota pertemuan OPEC+ juga menahan aksi jual di pasar. Pelaku pasar menantikan sinyal ketatnya manajemen pasokan dari kartel minyak dunia tersebut menjelang pertemuan peninjauan mereka. Kepatuhan para anggota OPEC+ terhadap pembatasan produksi dinilai krusial untuk menopang harga dan melindunginya dari kejatuhan lebih dalam akibat proyeksi perlambatan permintaan jangka panjang dari China.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 88,50 – 90,20 dan support di 85,30 – 84,00.
Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 84,00 – 85,50 dan support di 80,50 – 79,20.








