(Vibiznews – Forex) Minggu lalu, koreksi yang sudah lama dinantikan atas dollar AS dan bertambahnya probabilita BoE akan menaikkan tingkat bunga sebesar 50 bps pada bulan Agustus menjadi campuran yang dibutuhkan untuk pemulihan GBP/USD dari kerendahan selama lebih dari dua tahun, meskipun ketidak pastian mengenai politik di Inggris membatasi kenaikan GBP/USD. Minggu ini pasar fokus kepada yang paling penting, keputusan tingkat bunga the Fed. Selain itu data makro ekonomi GDP AS dan data inflasi di Eropa, AS, Jepang dan Australia.
Memulai minggu yang baru pada minggu lalu di 1.1868, GBP/USD mengakhiri minggu lalu pada hari Jumat dengan kenaikan ke 1.2004 karena melemahnya USD. Dari hari Senin GBP/USD terus bergerak naik sampai dengan hari Kamis ke1.1985 ditengah terus melemahnya USD. Pada hari Jumat GBP/USD melanjutkan kenaikannya ke 1.2004 dengan bagusnya data PMI Inggris yang keluar dan juga karena USD melanjutkan pelemahannya.
GBP/USD memperpanjang pemulihannya ke arah 1.2000 pada awal perdagangan sesi AS hari Senin di tengah melemahnya dollar AS secara luas. Dengan indeks saham utama di Wall Street dibuka dengan kenaikan yang meyakinkan, dollar AS terus melemah terhadap rival-rivalnya.
GBP/USD berhasil membangun momentum bullish yang diperoleh pada hari Jumat dan naik ke ketinggian lima hari yang baru di atas 1.1960 pada jam perdagangan sesi Eropa hari Senin. Memasuki jam perdagangan sesi AS, GBP/USD memperpanjang kenaikannya ke arah 1.2000 di sekitar 1.1995.
Indeks dollar AS memperpanjang penurunannya yang sudah mulai berlangsung dari akhir hari Jumat minggu lalu ke 107.73. Indeks dollar AS turun 0.22% intraday karena para trader mengurangi prospek hawkish dalam pergerakan the Fed berikutnya setelah melihat data makro ekonomi AS yang keluar pada minggu lalu dan juga sedikit berhati-hatinya pembicaraan dari para pejabat the Fed.
Probabilita the Fed akan menaikkan tingkat bunga sebesar 100 bps pada bulan Juli turun ke bawah 30% dari sebelumnya mengarah ke 90% pada hari Kamis minggu lalu.
GBP/USD diperdagangkan di teritori positip di atas 1.2000 di sekitar 1.2022, pada hari Selasa dengan dollar AS tetap berada di bawah tekanan bearish. Setelah data ekonomi dari AS menunjukkan kondisi yang memburuk di pasar perumahan, indeks dollar AS melanjutkan penurunan hariannya ke arah 106.50.
Indeks dollar AS (DXY) mengalami kejatuhan yang tajam setelah gagal memperpanjang tarikan naiknya ke atas 107.50 pada akhir jam perdagangan sesi Tokyo.
Berkurangnya ekspektasi akan kenaikan tingkat suku bunga the Fed untuk 100 basis poin telah mengirim DXY ke teritori yang negatip. Probabilita the Fed akan menaikkan tingkat bunga sebesar 100 bps telah jatuh ke bawah 30% dari sebelumnya hampir 90%.
Para trader mengurangi prospek hawkish dalam pergerakan the Fed berikutnya setelah melihat data makro ekonomi AS yang keluar pada minggu lalu dan juga sedikit berhati-hatinya pembicaraan dari para pejabat the Fed.
Pada hari Jumat minggu lalu, Departemen Perdagangan AS mempublikasikan data ekonomi Retail Sales AS bulan Juni yang naik 1.0% setelah revisi turun 0.1% pada bulan Mei. Sementara para ekonom memperkirakan kenaikan sebesar 0.9%.
Menurut laporan New York Federal Reserve, akitifitas sektor manufaktur New York naik signifikan. Bank sentral regional AS ini mengatakan bahwa survey dari Empire State manufacturing mengenai indeks kondisi bisnis secara umum, menunjukkan kenaikan ke angka 11.1 untuk bulan Juli. Angka bulan Juli ini naik signifikan dari angka bulan Juni yang negatip sebesar 1.2. Angka ini juga jauh mengatasi perkiraan dari pada ekonom yang memperkirakan New York Fed’s Empire State Survey Index bulan Juli akan muncul di angka negatip – 2.1.
GBP/USD mengalami tekanan bearish pada jam perdagangan sesi Eropa dan berlanjut sampai ke sesi AS. Pasangan matauang ini diperdagangkan turun ke bawah 1.2000 di sekitar 1.1985.
GBP/USD gagal memelihara momentum bullish-nya pada hari Rabu. Sentimen pasar yang buruk membantu dollar AS bangkit dan membebani pasangan matauang ini pada paruh ke dua perdagangan hari Rabu.
Sebelumnya, data yang dipublikasikan oleh Office for National Statistics (ONS) Inggris menunjukkan bahwa Consumer Price Index (CPI) melompat ke 9.4% per tahun pada bulan Juni dari sebelumnya 9.1% pada bulan Mei. Angka ini juga lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar di 9.3% sehingga menambah tekanan turun terhadap GBP/USD.
Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengakui pada hari Selasa bahwa kenaikan tingkat bunga BoE sebesar 50 bps sudah ada di tangan untuk dibawa di dalam pertemuan kebijakan bulan Agustus.
Namun kecemasan mengenai ketidak pastian politik yang berkelanjutan di Inggris membebani dan membatasi kenaikan dari Pounsterling. Setelah pemungutan suara di Parlemen dan beberapa ronde perdebatan, kandidat Perdana Menteri yang baru mengerucut pada dua nama, mantan Menteri Keuangan Rishi Sunak dan Mantan Menteri Luar Negeri Liz Truss dengan perbandingan suara 38% Rishi Sunak lawan 32% Liz Truss.
Setelah sempat jatuh ke bawah 1.1900, GBP/USD memperoleh kembali daya tariknya dan menghapus kerugian hariannya. Dengan indeks dollar AS berbalik melemah pada hari Kamis, di bawah 107.00 karena jatuhnya yields obligasi AS, pasangan matauang ini naik ke atas 1.1950 di sekitar 1.1963.
GBP/USD berhasil naik dari kerendahannya dengan berkurangnya kekuatan dollar AS setelah European Central Bank (ECB) mengambil langkah agresif dengan menaikkan tingkat bunganya lebih dari yang diperkirakan.
Sebagaimana dengan yang telah diperkirakan secara luas dan dikomitmenkan sebelumnya, ECB mengikuti tren dari pengetatan global dan menaikkan tingkat bunga resmi untuk pertama kalinya sejak 2011. Kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps dibandingkan dengan yang diperkirakan dalam konsensus sebesar 25 bps, mendukung naik pasangan mata uang GBP/USD.
Jatuhnya momentum di pasar tenaga kerja AS menambah tekanan turun terhadap dollar AS. Pada hari Kamis, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa Jobless Claim mingguan naik 7,000 menjadi 251.000. Naik dari angka minggu lalu di 244.000 klaim pengangguran. Dan juga lebih tinggi daripada yang diperkirakan konsensus pasar di 240.000. Ini adalah minggu ketiga Jobless Claims lebih tinggi daripada yang diperkirakan. Klaim pengangguran telah naik berturut-turut selama 7 minggu.
Pada hari Jumat, GBP/USD berhasil mengumpulkan momentum bullish-nya pada hari Jumat dan naik ke atas 1.2000 di sekitar 1.2004. Angka PMI Komposit dan Jasa lebih lemah daripada yang diperkirakan sehingga menyebabkan dollar AS kehilangan peminatnya dan pada gilirannya membuat rally GBP/USD.
Setelah sempat jatuh ke arah 1.1900 karena menguatnya USD pada jam perdagangan sesi Eropa, GBP/USD mengalami rebound pada jam perdagangan sesi AS dengan dollar AS berbalik turun setelah keluarnya data makro ekonomi AS, PMI Komposit dan Jasa AS yang lebih lemah daripada yang diperkirakan.
PMI jasa AS bulan Juli muncul di 50.6, lebih lemah dibandingkan dengan yang diperkirakan di 52.0 yang mendorong turun dollar AS. Sementara itu PMI Komposit Inggris muncul di 52.8 melebihi perkiraan pasar di 52.5 dan PMI Manufaktur Inggris muncul di 52.2 dibandingkan dengan yang diperkirakan para analis di 52, yang mendorong naik GBP.
Minggu Ini Fokus kepada FOMC the Fed dan GDP AS
Minggu ini didominasi oleh event penting dari AS dimana bank sentral AS, the Fed akan mengambil keputusan yang paling krusial mengenai tingkat bunganya. Kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps sepenuhnya diyakinkan akan terjadi pada pertemuan FOMC the Fed bulan Juli ini. Namun, apabila Powell memberikan tanda untuk kenaikan 75 bps lagi pada pertemuan berikutnya di bulan September, hal ini akan menambah diverjensi kebijakan moneter AS dengan Inggris yang akan bisa kembali membawa kepada pergerakan naik dari dollar AS. Menjelang event pertemuan FOMC the Fed pada hari Kamis, data makro ekonomi berupa Durable Goods Orders AS pada hari Rabu akan diamati oleh pasar.
AS juga akan merilis data makro ekonomi yang penting yaitu GDP kuartal ke dua pada hari Kamis dan Core PCE Price Index pada hari Jumat. Ke dua data penting ini akan memberikan pencerahan mengenai Kesehatan dari ekonomi AS yang bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap penghitungan harga di pasar dan jalur kebijakan moneter dari the Fed.
Amerika Serikat mencatat kontraksi GDP pada kuartal pertama tahun ini sebesar 1.6%. Namun meskipun pertumbuhan ekonomi negatip, ketua the Fed Jerome Powell tetap yakin dengan outlook ekonomi AS sementara tetap juga berpegang kepada janjinya untuk memerangi inflasi.
Sementara itu dari kalender ekonomi Inggris minggu ini tidak ada data papan atas yang dipublikasikan. Karenanya, perkembangan politik di Inggris akan tetap merupakan yang paling relevan bagi para trader GBP.
Support & Resistance
“Support” terdekat menunggu di 1.1960 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1900 dan kemudian 1.1800. “Resistance” terdekat menunggu di 1.2060 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2100 dan kemudian 1.2200.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido


