(Vibiznews-Kolom) Kita tahu bahwa pasar bullish sudah berada di tahap akhir ketika para profesional keuangan mulai berbicara tentang saham seolah-olah itu adalah obligasi. Fenomena ini biasanya muncul ketika optimisme pasar sudah sangat tinggi dan investor mulai mencari cara untuk menstabilkan pendapatan mereka. Dalam kondisi seperti ini, batas antara instrumen berisiko dan instrumen aman mulai terlihat kabur. Hal ini menjadi sinyal bahwa siklus pasar mungkin sudah mendekati puncaknya.
Contoh terbaru adalah munculnya exchange-traded fund yang menawarkan pembayaran “mirip obligasi”. Produk-produk ini dirancang untuk menarik investor yang menginginkan pendapatan stabil seperti obligasi, tetapi tetap ingin berada di pasar saham. Dalam praktiknya, konsep ini terdengar menarik karena menggabungkan dua dunia investasi. Namun, di balik daya tarik tersebut terdapat kompleksitas yang tidak selalu mudah dipahami.
Sebagian besar investor yang berorientasi pada pendapatan seharusnya menghindari risiko. Namun, imbal hasil tinggi yang ditawarkan ETF baru ini justru datang dengan risiko yang kompleks dan tidak familiar. Banyak investor mungkin tergoda oleh angka imbal hasil tanpa sepenuhnya memahami mekanisme di baliknya. Padahal, semakin tinggi imbal hasil yang ditawarkan, biasanya semakin besar pula risiko yang menyertainya.
Dan ini bukan sulap. Dana-dana ini tidak menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada pasar saham; mereka hanya mengubah imbal hasil saham menjadi pembayaran pendapatan rutin. Transformasi ini membuat arus kas terlihat lebih stabil di permukaan. Namun dalam prosesnya, mereka membuat investor terpapar risiko bahwa imbal hasil tinggi—bahkan pokok investasi—dapat menyusut tepat saat paling dibutuhkan.
ETF ini, yang disebut dana auto callable, berkembang sangat cepat. Setidaknya selusin telah diluncurkan sejak musim panas lalu, dengan total aset gabungan lebih dari $1,5 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan adanya permintaan yang kuat dari pasar terhadap produk semacam ini. Selain itu, puluhan produk serupa diperkirakan akan segera diluncurkan dalam waktu dekat.
Strategi mereka sangat beragam. Namun, dengan satu atau lain cara, ETF “mirip obligasi” ini bergantung pada pasar saham dan derivatif keuangan untuk menghasilkan imbal hasil. Artinya, kinerja mereka tetap sangat terkait dengan dinamika pasar yang volatil. Kompleksitas derivatif yang digunakan juga menambah lapisan risiko tambahan bagi investor.
Inilah alasannya. Auto callable adalah jenis structured note, yaitu bentuk utang yang biasanya diterbitkan oleh bank besar. Instrumen ini sering kali dirancang dengan berbagai kondisi yang memengaruhi pembayaran kepada investor. Imbal hasilnya biasanya terkait dengan kinerja setidaknya satu saham atau indeks pasar. Dengan demikian, performanya tidak berdiri sendiri, melainkan tergantung pada aset acuan.
Mereka membayar tingkat pendapatan yang dijanjikan selama aset acuan tidak turun lebih dari persentase tertentu pada tanggal-tanggal tertentu. Mekanisme ini membuat pembayaran tampak stabil selama kondisi pasar tidak terlalu buruk. Selain itu, mereka juga mengembalikan nilai pokok penuh jika aset target berada pada atau di atas level yang telah ditentukan saat jatuh tempo. Namun, semua ini bergantung pada kondisi pasar yang tetap dalam batas tertentu.
Instrumen ini umumnya jatuh tempo dalam lima tahun dan dapat dipanggil kembali, atau ditebus oleh penerbit, setelah satu tahun jika harga aset acuan berada pada atau di atas level awalnya. Fitur ini memberikan fleksibilitas bagi penerbit, tetapi tidak selalu menguntungkan bagi investor. Dalam beberapa kasus, investor mungkin kehilangan potensi keuntungan jika instrumen ditebus lebih awal. Hal ini menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dengan cermat.
Apa yang terjadi jika saham atau indeks acuan turun lebih dari batas yang telah ditentukan, yang sering kali sekitar 40%? Dalam kondisi tersebut, investor mungkin tidak mendapatkan pembayaran pendapatan rutin seperti yang diharapkan. Bahkan, ada kemungkinan kehilangan sebagian besar nilai pokok investasi. Risiko ini menjadi sangat signifikan terutama saat pasar mengalami tekanan besar.
Dengan mendiversifikasi eksposurnya ke banyak auto callable dan berbagai tanggal jatuh tempo, sebuah ETF dapat mengurangi sebagian besar risiko penyusutan pendapatan atau nilai pokok. Pendekatan ini memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan memiliki hanya satu atau beberapa instrumen. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak broker dan penasihat keuangan telah mendorong klien mereka untuk memiliki produk-produk ini. Namun, diversifikasi tetap tidak dapat menghilangkan risiko sepenuhnya.
ETF tidak dapat menghilangkan risiko penurunan tiba-tiba pada pendapatan atau nilai pokok. Risiko sistemik di pasar saham tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja dana ini. Ketika pasar mengalami penurunan tajam, dampaknya bisa langsung terasa pada pendapatan investor. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa perlindungan yang ditawarkan bersifat terbatas.
Memiliki salah satu dana ini menempatkan investor pada posisi seperti perusahaan asuransi terhadap penurunan harga saham yang moderat hingga parah. Dalam posisi ini, investor pada dasarnya menerima premi sebagai kompensasi atas risiko yang ditanggung. Konsep ini mirip dengan menjual perlindungan terhadap penurunan pasar. Namun, seperti halnya asuransi, risiko besar tetap ada jika terjadi kejadian ekstrem.
Itulah sebabnya dana-dana ini dapat menawarkan pembayaran bulanan rutin sebesar 12%, 14%, bahkan hingga 19% dalam tingkat tahunan. Angka-angka ini terlihat sangat menarik dibandingkan instrumen investasi tradisional. Namun, imbal hasil tersebut tidak bersifat tetap dan dapat berubah seiring waktu. Ketidakpastian ini menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan investor.
Apakah ada jebakan? Jawabannya adalah ya. Investor menanggung 100% risiko bahwa saham atau indeks acuan bisa turun dan tetap berada pada level rendah dalam jangka waktu lama. Dalam situasi seperti ini, kerugian bisa menjadi sangat signifikan. Risiko ini sering kali tidak sepenuhnya dipahami oleh investor ritel.
Hasil bersih dari semua kompleksitas ini adalah kerugian cenderung jarang terjadi, tetapi ketika terjadi, dampaknya bisa sangat besar. Ini berarti investor mungkin merasa aman untuk waktu yang lama sebelum akhirnya menghadapi kerugian besar. Pola seperti ini sering kali membuat risiko terasa lebih kecil daripada yang sebenarnya. Padahal, potensi kerugian tetap signifikan.
Dana-dana ini, serta indeks yang menjadi dasar sebagian di antaranya, memiliki riwayat yang singkat. Namun, jika indeks yang digunakan oleh Calamos Auto callable Income ETF sudah ada selama krisis keuangan global, nilainya akan turun 63,8% dari 9 Oktober 2007 hingga 9 Maret 2009, menurut MerQube. Pada periode yang sama, S&P 500 turun 55,3% dengan dividen yang diinvestasikan kembali. Perbandingan ini menunjukkan bahwa risiko produk ini tidak bisa dianggap ringan.
Kerugian sebesar 63,8% jelas tidak terlalu “mirip obligasi”. Istilah “mirip obligasi” bisa menyesatkan jika tidak dipahami dengan benar. Banyak investor mungkin mengasosiasikan obligasi dengan stabilitas dan risiko rendah. Namun, dalam kasus ini, kenyataannya jauh berbeda.
Selama 20 tahun hingga pertengahan 2025, indeks yang mendasari Calamos Auto callable Income ETF akan menghasilkan pengembalian kumulatif yang hampir identik dengan S&P 500 sebelum biaya. Sebagian besar catatan kinerja ini merupakan hasil simulasi karena indeks tersebut baru diluncurkan pada pertengahan 2025. Hal ini berarti data historisnya tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar nyata. Investor perlu berhati-hati dalam menafsirkan data semacam ini.
Matt Kaufman, kepala ETF di Calamos, mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah memberikan pengalaman seperti S&P dengan pendapatan tinggi dan stabil. Ia menyebutkan bahwa investor akan menerima sekitar 14% yang dibayarkan setiap bulan selama S&P 500 tidak turun 40% atau lebih. Ia juga menambahkan bahwa skenario penurunan besar tetap mungkin terjadi dan tidak boleh diabaikan. Pernyataan ini menunjukkan adanya kesadaran terhadap risiko ekstrem.
S&P 500 hanya turun lebih dari 40% sebanyak lima kali dalam satu abad terakhir. Namun, peristiwa langka di pasar saham memiliki kecenderungan untuk terulang kembali ketika investor merasa hal tersebut tidak mungkin terjadi. Sejarah pasar menunjukkan bahwa krisis sering muncul secara tak terduga. Oleh karena itu, mengabaikan kemungkinan tersebut bisa menjadi kesalahan besar.
Jika penasihat keuangan merekomendasikan ETF auto callable, penting untuk menanyakan apa yang akan terjadi pada pendapatan dan pokok jika aset acuan turun 50% dan tetap rendah. Pertanyaan ini membantu mengungkap risiko sebenarnya dari produk tersebut. Jawaban yang diberikan harus jelas dan berbasis angka. Tanpa pemahaman yang konkret, keputusan investasi bisa menjadi berisiko.
Jawaban tersebut harus mencakup angka yang realistis. Jika tidak terdapat indikasi kerugian dalam penjelasan, maka ada kemungkinan informasi yang diberikan tidak akurat. Investor perlu bersikap kritis terhadap setiap rekomendasi. Transparansi menjadi kunci dalam memahami produk kompleks.
Selanjutnya, penting untuk mempertimbangkan mengapa harus membayar mahal untuk produk yang kompleks. Biaya tahunan dana-dana ini biasanya mencapai 0,6% atau lebih, yang tergolong tinggi. Biaya ini dapat mengurangi imbal hasil bersih yang diterima investor. Dalam jangka panjang, dampaknya bisa cukup signifikan.
Brian Jacobs, manajer portofolio di Aptus Capital Advisors di Fairhope, Alabama, menjelaskan bahwa investor memang mendapatkan imbal hasil tinggi dari dana autocallable. Namun, untuk mencapainya, investor harus menanggung risiko pasar saham melalui mekanisme yang sangat kompleks. Ia juga menilai bahwa banyak investor dan bahkan penasihat keuangan mungkin belum sepenuhnya memahami risiko tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman di pasar.
Setiap kali ada pilihan antara yang sederhana dan yang rumit, Wall Street cenderung memilih yang rumit. Kompleksitas sering kali digunakan untuk menciptakan produk yang terlihat menarik. Namun, dari sudut pandang investor, kesederhanaan sering kali lebih menguntungkan. Oleh karena itu, investor sebaiknya lebih memilih pendekatan yang mudah dipahami dan transparan.



