Bank Dunia Waspadai Perlambatan Ekonomi Global

75
Bank Dunia

(Vibiznews-Kolom) Bank Dunia memperingatkan bahwa ekonomi global tahun ini berpotensi tumbuh kurang dari proyeksi awal yang diperkirakan apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut, mengganggu pasokan energi, dan memicu pelemahan tajam pasar keuangan dunia.

Konflik yang telah memasuki bulan keempat itu dinilai masih jauh dari penyelesaian. Eskalasi militer terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.

Dalam laporan prospek ekonomi global terbarunya, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 2,5% pada tahun ini dari 2,9% pada tahun sebelumnya, dengan asumsi arus pengiriman minyak, gas alam, dan komoditas lainnya melalui Selat Hormuz mulai kembali normal pada Agustus mendatang.

Lembaga tersebut menilai bahwa proyeksi terbaru itu sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan Januari. Di luar periode pandemi Covid-19 dan krisis keuangan global 2008–2009, laju pertumbuhan tersebut akan menjadi yang terlemah sejak 1991. Bank Dunia juga menegaskan bahwa konflik yang lebih panjang berisiko memperdalam perlambatan ekonomi dunia.

Menurut Bank Dunia, gangguan berkepanjangan terhadap arus komoditas berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku, memperkuat tekanan inflasi, memperburuk ketahanan pangan, meningkatkan tekanan di sektor keuangan, serta mengurangi laju pertumbuhan ekonomi global.

Apabila gangguan pelayaran dapat segera diatasi, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Amerika Serikat masih mampu tumbuh 2,2% tahun ini, sesuai proyeksi yang diterbitkan pada Januari. Namun sekitar dua pertiga negara di dunia diperkirakan tetap menghadapi perlambatan ekonomi akibat dampak konflik tersebut. Negara berkembang dipandang sebagai kelompok yang paling rentan, sementara rumah tangga berpenghasilan rendah diperkirakan akan menanggung beban terbesar.

Bank Dunia menekankan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, melainkan juga oleh masyarakat miskin di berbagai belahan dunia melalui kenaikan harga dan perlambatan ekonomi.

Di kawasan yang berada dekat pusat konflik, Bank Dunia memperkirakan Irak, Kuwait, dan Qatar akan mengalami kontraksi ekonomi masing-masing sebesar 8,9%, 6,4%, dan 5,7%. Sementara itu, tingginya ketidakpastian membuat lembaga tersebut belum dapat menyusun proyeksi ekonomi yang memadai untuk Iran, Lebanon, dan Suriah.

Dari sisi komoditas, Bank Dunia kini memperkirakan harga-harga akan meningkat 22% sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada Januari, lembaga tersebut masih memperkirakan penurunan harga sebesar 7%. Kenaikan paling besar berasal dari sektor energi, dengan harga minyak diproyeksikan rata-rata mencapai US$94 per barel pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Selain energi, harga logam industri diperkirakan naik 18% dibandingkan tahun lalu, sementara harga pupuk diprediksi melonjak 38%. Adapun kenaikan harga pangan diperkirakan relatif terbatas di kisaran 3% berkat produksi gandum global yang masih cukup kuat.

Dalam skenario yang lebih buruk, apabila Selat Hormuz tetap terganggu hingga kuartal terakhir tahun ini, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun menjadi hanya 2,1%. Pada kondisi tersebut, harga minyak dapat mencapai rata-rata US$115 per barel dan bertahan tinggi hingga tahun berikutnya.

Bank Dunia juga mengingatkan bahwa dampaknya bisa jauh lebih berat jika gangguan tersebut memicu koreksi tajam di pasar saham atau lonjakan imbal hasil obligasi. Dalam kondisi seperti itu, pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi melambat hingga hanya 1,3%, yang akan menjadi salah satu performa terburuk dalam lebih dari tiga dekade terakhir. Negara berkembang diperkirakan hanya mampu mencatat pertumbuhan sebesar 2,4%.

Lembaga tersebut menilai perkembangan terbaru semakin memperkuat risiko bahwa dekade 2020-an akan menjadi periode yang sulit bagi banyak negara berkembang dalam upaya mengejar standar hidup negara-negara maju. Kemajuan ekonomi yang lambat dinilai dapat membuat kesenjangan kesejahteraan semakin sulit dipersempit.

Meski demikian, Bank Dunia melihat peluang perbaikan pada dekade 2030-an melalui pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI). Jika teknologi tersebut mampu meningkatkan produktivitas global secara signifikan, pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi mengalami percepatan yang lebih kuat dibandingkan dekade saat ini.

Namun Bank Dunia juga menyoroti bahwa manfaat AI belum tentu dinikmati secara merata. Banyak bahasa yang digunakan oleh sebagian besar populasi dunia masih kurang terwakili dalam data pelatihan model AI, sehingga negara berkembang berisiko tertinggal dalam memanfaatkan revolusi teknologi tersebut.

Dengan asumsi situasi di Selat Hormuz kembali normal dalam waktu dekat, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat meningkat menjadi 2,8% pada 2027 dan 2028. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia membuka kemungkinan munculnya gangguan pasokan baru yang dapat kembali menekan pertumbuhan ekonomi global di masa mendatang.

Dampak terbesar bagi Indonesia saat ini bukan lagi lonjakan harga minyak yang sedang terjadi, melainkan ketidakpastian terkait proses normalisasi Selat Hormuz. Meskipun upaya perdamaian mulai menunjukkan kemajuan dan harga minyak telah turun dari puncaknya, pasar energi global masih sensitif terhadap perkembangan keamanan di kawasan tersebut. Gangguan baru terhadap jalur pelayaran atau kegagalan implementasi kesepakatan damai dapat kembali memicu volatilitas harga energi dan pasar keuangan internasional.

Indonesia perlu mewaspadai dampak tidak langsung dari perlambatan ekonomi global yang diperingatkan Bank Dunia. Apabila pertumbuhan ekonomi dunia melemah lebih dalam, permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, China, dan kawasan Eropa dapat menurun. Kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja ekspor manufaktur Indonesia, mulai dari tekstil, alas kaki, hingga produk elektronik, yang selama ini menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan dapat membuat investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya di negara berkembang. Meskipun fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil, arus investasi dan aliran dana asing berpotensi melambat apabila pelaku pasar memilih aset yang dianggap lebih aman. Karena itu, tantangan terbesar bagi Indonesia bukan hanya menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, tetapi juga mempertahankan kepercayaan investor serta momentum pertumbuhan ekonomi di tengah lingkungan global yang semakin tidak menentu.