(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives terpantau mengalami koreksi dan ditutup sedikit melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (9/9/2026), setelah sempat mencetak reli panjang. Kontrak acuan tersebut terkoreksi sekitar 0,3 persen ke level RM4.961 per metrik ton pada paruh pertama perdagangan. Meskipun melandai akibat aksi ambil untung, harga CPO secara struktural masih bertahan di level yang sangat kuat, dengan kenaikan lebih dari 22 persen sepanjang tahun berjalan, dan terus mendekati batas psikologis RM5.000 per metrik ton.
Koreksi harga CPO dunia hari ini utamanya dipicu oleh aksi ambil untung dari para pelaku pasar. Setelah reli berturut-turut yang membawa harga menyentuh RM5.015 per metrik ton kemarin, sejumlah investor memanfaatkan momentum hari ini untuk mencairkan keuntungan. Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan ekspansi atau kenaikan persediaan stok sawit Malaysia untuk bulan Agustus turut memicu langkah defensif jangka pendek dari para pelaku pasar.
Kendati terkoreksi, penurunan harga CPO dunia tertahan oleh ancaman kebakaran hutan yang meluas di sentra perkebunan Kalimantan dan Sumatra. Kebakaran hutan tersebut memicu risiko nyata terhadap logistik panen dan aktivitas pengolahan pabrik, sehingga membatasi penurunan harga lebih lanjut pada perdagangan hari ini. Sentimen penahan koreksi juga datang dari lonjakan harga minyak mentah dunia, dengan Brent melejit mendekati US$99,33 per barel akibat eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran yang menghancurkan beberapa tanker minyak di Timur Tengah. Melonjaknya harga minyak mentah tersebut membuat minyak sawit menjadi opsi yang jauh lebih ekonomis dan kompetitif sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, sehingga turut mendukung prospek permintaan CPO ke depan.
Dari sisi kebijakan, sentimen jangka menengah pasar sawit dunia turut diperkuat setelah Kementerian Perdagangan Indonesia secara resmi menetapkan Harga Referensi CPO untuk bulan September naik menjadi US$1.007,51 per metrik ton. Kebijakan ini meningkatkan Bea Keluar menjadi US$148 per metrik ton dan Pungutan Ekspor menjadi 12,5 persen, yang secara global ikut mengerek batas bawah harga jual fisik sawit di pasar internasional. Kepercayaan pasar juga tetap solid didorong oleh implementasi program energi domestik Indonesia, di mana penyerapan untuk bahan bakar nabati B50 yang tinggi secara otomatis memotong alokasi volume CPO yang tersedia untuk diekspor ke luar negeri, sehingga menjaga sisi penawaran global tetap ketat pada perdagangan hari ini.








