Risiko Tersembunyi di Balik Kontrak Besar AI

72
AI

Kontrak pasokan bernilai miliaran dolar disebut telah menjadi perekat komersial yang menopang ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Namun, sejumlah pengamat menilai investor tidak seharusnya berasumsi bahwa kontrak-kontrak tersebut akan tetap bertahan apabila euforia AI mulai mereda.

Kontrak untuk memasok daya komputasi bagi perhitungan AI disebut kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari demam AI, bahkan mendorong berbagai industri melakukan reorganisasi. Para pemasok AI menyatakan bahwa skema tersebut memberikan visibilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pendapatan masa depan mereka, sehingga memungkinkan perusahaan menyampaikan proyeksi penjualan dan laba yang sangat besar kepada investor.

Industri memori komputer dinilai menjadi contoh paling ekstrem dari tren tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, para pemasok memori dan pelanggan mereka dilaporkan semakin aktif menjalin kontrak berjangka panjang.

Perkembangan itu disebut didorong oleh pertumbuhan eksplosif autonomous AI agents yang membutuhkan kapasitas memori sangat besar. Kondisi tersebut dinilai mengubah bisnis memori—yang selama ini dikenal sebagai industri yang sangat kompetitif, bersifat siklus, dan dipenuhi persaingan harga—menjadi sektor yang jauh lebih stabil.

Produsen chip memori terbesar di dunia—Samsung Electronics dan SK Hynix dari Korea Selatan, serta Micron Technology dari Amerika Serikat—dilaporkan membukukan laba rekor dan memperkirakan kekurangan pasokan akan berlangsung hingga 2028. Seorang eksekutif SK Hynix, yang bulan ini mencatatkan saham perusahaan di New York untuk memanfaatkan tingginya minat terhadap industri memori, mengatakan kepada para analis pada April lalu bahwa kontrak jangka panjang diyakini dapat memperbaiki persepsi pasar terhadap bisnis memori secara keseluruhan.

Micron disebut menjadi salah satu perusahaan yang paling agresif dalam menjalin kontrak. Perusahaan itu memiliki strategic customer agreements yang umumnya berlaku selama lima tahun dengan skema take-or-pay, sehingga pembeli tetap diwajibkan membayar meskipun tidak mengambil pengiriman chip memori. Chief Executive Micron, Sanjay Mehrotra, mengatakan bulan lalu bahwa perjanjian tersebut diperkirakan akan menyumbang lebih dari separuh pendapatan perusahaan pada tahun-tahun mendatang.

Prospek tersebut dinilai menguntungkan bagi investor perusahaan memori. Kinerja saham perusahaan-perusahaan tersebut juga tercatat sangat kuat dalam beberapa waktu terakhir. Saham Micron telah melonjak hampir tiga kali lipat sepanjang tahun ini, SK Hynix naik hampir sebesar itu, sedangkan Samsung menguat sekitar dua kali lipat. Muncul pertanyaan mengenai sejauh mana kontrak jangka panjang benar-benar mampu memberikan kepastian ketika industri memasuki fase perlambatan.

Apabila permintaan memori melemah sebelum kontrak pasokan berakhir, para pelaku industri memperkirakan kontrak-kontrak tersebut kemungkinan akan dinegosiasikan ulang atau diperpanjang. Pemasok chip dinilai tidak memiliki kepentingan untuk terus mengirim produk kepada pelanggan yang tidak akan menggunakannya.

Apabila pengiriman tetap dilakukan, chip-chip tersebut diperkirakan hanya akan menumpuk di gudang hingga permintaan kembali pulih. Setelah kondisi pasar membaik, pelanggan diperkirakan akan lebih dahulu menghabiskan persediaan yang telah dimiliki sebelum kembali membeli chip baru, sehingga pendapatan produsen chip berpotensi tertunda.

Pemasok juga dinilai enggan memaksakan produk kepada pelanggan yang tidak membutuhkannya, terutama apabila para pesaing menawarkan syarat yang lebih fleksibel. Memasukkan chip memori yang tidak diperlukan ke dalam rantai pasokan diperkirakan hanya akan merusak hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Sejarah industri teknologi disebut menunjukkan bahwa para pemasok cenderung mengambil pendekatan yang lebih akomodatif ketika pasar memasuki masa perlambatan.

Pergeseran menuju kontrak jangka panjang yang serupa pernah terjadi saat kelangkaan chip pada era pandemi Covid-19. Pada masa itu, produsen chip memanfaatkan kontrak tersebut untuk membantu membiayai ekspansi kapasitas manufaktur sekaligus menentukan pelanggan yang memperoleh prioritas pasokan.

Microchip Technology, produsen chip microcontroller yang digunakan dalam kendaraan dan berbagai perangkat elektronik, meluncurkan preferred supplier program pada 2021. Namun, ketika kelangkaan berubah menjadi kelebihan pasokan beberapa tahun kemudian, program tersebut dihentikan dan pelanggan memperoleh berbagai pengecualian. Fleksibilitas kemudian menjadi pendekatan utama perusahaan.

Banyak kontrak dilaporkan diperpanjang hingga beberapa tahun, sementara pelanggan tidak lagi diwajibkan membeli pasokan sesuai komitmen yang dibuat pada masa pandemi. Chief Executive perusahaan tersebut, Steve Sanghi, mengatakan pada November lalu bahwa perusahaan tidak akan memaksa pelanggan membeli produk yang tidak mereka butuhkan.

Dinamika serupa diperkirakan akan kembali terjadi apabila ledakan AI mulai melemah. Sementara itu, nasib seluruh rantai pasok AI kini dinilai semakin bergantung pada kontrak-kontrak yang nilainya semakin besar dan berjangka waktu semakin panjang seiring perusahaan berlomba memperoleh peluang bisnis di sektor AI.

Fenomena tersebut disebut jauh melampaui pasar memori. Pengembang AI terkemuka diketahui memiliki kontrak dengan penyedia layanan cloud computing seperti Oracle dan CoreWeave. Perusahaan-perusahaan tersebut kemudian memiliki kontrak lanjutan untuk membeli peralatan komputasi AI.

Produsen chip AI yang memasok sebagian besar peralatan tersebut juga memiliki kontrak dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) untuk memproduksi chip. TSMC sendiri diketahui memiliki kontrak jangka panjang untuk membeli peralatan manufaktur dari perusahaan seperti ASML yang berbasis di Belanda.

Sebagai contoh, Oracle menandatangani kontrak layanan cloud computing bernilai sangat besar dengan OpenAI tahun lalu. Pada akhir kuartal fiskal terakhirnya, Oracle memiliki remaining performance obligations senilai US$638 miliar, yakni kontrak yang belum sepenuhnya dipenuhi perusahaan. Direktur Keuangan Oracle, Hilary Maxson, mengatakan kepada para analis bulan lalu bahwa nilai tersebut memberikan visibilitas yang sangat kuat terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan di masa depan karena didukung oleh komitmen kontraktual jangka panjang dari pelanggan.

Ketergantungan terhadap kontrak semacam ini dilaporkan meningkat tajam dalam setahun terakhir. Sejak pertengahan 2025, empat perusahaan dengan belanja AI terbesar—Google milik Alphabet, Microsoft, Amazon.com, dan Oracle—secara kolektif telah melipatgandakan lebih dari dua kali lipat nilai revenue backlog mereka, dengan tambahan lebih dari US$1 triliun.

Visibilitas tersebut dinilai dapat dengan cepat berubah menjadi ketidakpastian. Bahkan, keberadaan kontrak-kontrak jangka panjang bernilai besar diperkirakan justru dapat memperburuk dampak apabila gelembung AI mulai mengempis.

Dalam laporan ekonomi tahunannya pada awal bulan ini, Bank for International Settlements menyatakan bahwa kelangkaan di sepanjang rantai pasok AI kemungkinan memperbesar risiko investasi berlebihan karena perusahaan berupaya mengamankan kapasitas produksi melalui kontrak jangka panjang yang pada akhirnya membuat mereka semakin rentan apabila permintaan tidak memenuhi harapan.

Para pemberi pinjaman dan investor yang telah menyalurkan dana kepada perusahaan berdasarkan kontrak-kontrak jangka panjang tersebut dinilai berpotensi menghadapi kejutan apabila pertumbuhan industri AI tidak berkembang sesuai ekspektasi.