Rekomendasi Minyak Mingguan 11 – 15 Juli 2022: Kenaikan Terhalang USD?

761

(Vibiznews – Commodity) Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $101, harga minyak mentah WTI pada mulanya di hari Senin berhasil naik ke $108 sekalipun di tengah tekanan turun. Namun pada hari – hari selanjutnya tidak kuat lagi bertahan, harga minyak mentah WTI turun menembus level psikologis $100 ke $97.90 karena ketakutan akan resesi yang membuat dollar AS naik ke atas 106 untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade. Pada hari Rabu melanjutkan penurunannya ke $94.12. Namun pada hari Kamis berhasil bangkit kembali naik ke atas $100 di level harga $102 per barel, menghentikan tren turun selama 2 hari berturut-turut. Dan pada hari Jumat berhasil bertahan di harga yang sama di $102.

Pergerakan Harga WTI Minggu Lalu

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Senin berhasil naik dan diperdagangkan di sekitar $108.75 di tengah tekanan turun.

Harga minyak mentah WTI berjuang untuk memperpanjang pemulihan yang dialami pada akhir minggu lalu. Faktor negatip yang menghadang pemulihan harga minyak mentah WTI adalah berita bahwa Iran mengumumkan pemotongan harga minyak mentahnya dalam rangka berkompetisi dengan Rusia.

Selain itu angka PMI AS yang keluar berdampak kepada ketakutan akan datangnya resesi ekonomi. Angka yang buruk yang dikeluarkan oleh Institute of Supply Management (ISM) AS telah mendorong naik kemungkinan terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat. ISM AS menyampaikan rentannya ekonomi AS dalam semua aspek: PMI Manufaktur, New Orders Index dan Employment Index.

Dibandingkan dengan bank sentral utama dunia lainnya, Federal Reserve AS telah mempercepat kenaikan tingkat bunga tanpa banyak keraguan karena prospek pertumbuhan ekonomi yang menguat dan ketatnya pasar tenaga kerja mendukung para pembuat kebijakan pada the Fed untuk menyuarakan sikap hawkish yang ekstrim.

Sekarang dengan munculnya data ekonomi dari ISM yang buruk, timbul pertanyaan mengenai prospek pertumbuhan ekonomi AS.

Selain itu, angka Nonfarm Payrolls AS turun signifikan ke 250.000 dari sebelumnya 390.000, yang menunjukkan bahwa kebijakan tingkat bunga yang lebih tinggi telah mulai berdampak terhadap pasar tenaga kerja.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa turun tajam menembus level psikologis $100.00 dan diperdagangkan di sekitar $97.90.

Ketakutan akan resesi yang membuat pasar dikuasai sentimen “risk-off” mengatasi faktor – faktor fundamental pendukung kenaikan harga minyak mentah, membuat harga minyak mentah WTI turun tajam menembus support kuat di level psikologis $100.00 per barel.

Dolar AS kembali menemukan permintaan sebagai assets safe-haven dan terus mengatasi rival-rivalnya pada hari Selasa dengan indeks dolar AS naik ke atas 106.00 untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade.

Dollar AS menemukan permintaannya di tengah atmosfir pasar yang enggan terhadap resiko dengan investor bertambah prihatin mengenai resesi global.

Saham-saham berjangka di bursa AS Wall Street turun tajam diseret oleh kerugian yang substansial pada rekan luarnegerinya. Indeks saham berjangka AS turun antara 0.5% dan 0.7%.

Sementara itu yields obligasi pemerintah, sebaliknya, malah melemah dengan investor bergegas mencari keamanan. Yields treasury AS 10 tahun sekarang berada pada 2.85%.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Rabu masih berada dalam tekanan bearish dan diperdagangkan di sekitar $94.12, dengan sebelumnya sempat naik menembus resistance di atas batas $100 pada jam perdagangan sesi Asia.

Pada saat likuiditas kembali ke pasar setelah liburan panjang selama 3 hari di AS, ketakutan akan resesi global memuncak, memukul assets yang berpenghasilan lebih tinggi seperti minyak mentah.

Mengamuknya inflasi, naiknya harga energi, dan sikap bank sentral utama dunia yang cenderung menaikkan tingkat suku bunga mengintensifkan kekuatiran akan perlambatan ekonomi.

Selain keprihatinan akan berkurangnya pertumbuhan permintaan terhadap minyak mentah, gelombang keengganan terhadap resiko juga menekan harga minyak mentah turun. Ditambah lagi dengan munculnya lockdown yang baru di Cina dengan Shanghai mengumumkan dua ronde baru dari testing masal setelah diditeksi adanya infeksi yang baru di Shanghai.

Terlepas dari faktor fundamental, grafik tehnikal harian dari WTI juga menunjukkan penurunan.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Kamis mulai bangkit dan diperdagangkan di sekitar $102.00 per barel.

Harga minyak mentah membukukan keuntungan harian pertama kalinya yang menghentikan tren turun selama dua hari berturut-turut dan bangkit dari kerendahan selama tiga bulan, di tengah berbalik melemahnya dollar AS. Pergerakan naik harga minyak mentah WTI bertambah didorong juga oleh sanksi Amerika Serika tatas Iran dan keresahan global atas masalah output minyak mentah Rusia.

Indeks dollar AS (DXY) turun dari ketinggian selama 20 tahun yang dicapai pada hari sebelumnya dan mengalami kerugian 0.20%, di level sekitar 106.90. DXY turun karena turunnya yields treasury AS.

Selain turunnya yields treasury AS, hal yang membuat dollar AS turun bisa jadi adalah angka data ekonomi AS yang keluar lebih rendah dari angka sebelumnya. PMI ISM Jasa AS bulan Juni turun ke 55.3 dibandingkan dengan bulan Mei di 55.9, meskipun masih lebih baik daripada yang diperkirakan sebesar 54.5. Sementara itu JOLTS Job Opening AS untuk bulan Mei turun menjadi 11.25 juta dibandingkan dengan sebelumnya di 11.68 juta, meskipun masih lebih tinggi daripada yang diperkirakan di 11 juta.

Kenaikan harga minyak mentah WTI juga didorong oleh Amerika Serikat mengencangkan cengkeramannya atas bisnis energi Iran, sementara negara yang tergabung di dalam G7 terus berusaha mengatasi masalah ekspor minyak mentah Rusia. Amerika Serikat pada hari Rabu mengenakan sanksi terhadap network dari Cina, Emirati dan perusahaan lainnya yang dituduh telah membantu mengirimkan dan menjual produk petrokimia dan petroleum Iran ke Asia Timur, dalam rangka menekan Tehran agar mau membangkitkan kesepakatan nuklir Iran 2015.

Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Jumat berhasil bertahan di $102.60 per barel dengan dollar AS melanjutkan pelemahannya dan akan stabilnya produksi minyak mentah AS.

Indeks dollar AS melanjutkan penurunannya dari 106.90 ke 106.70 di tengah sentimen pasar yang bagus dengan masuknya arus yang positip terhadap resiko ke pasar.

Dari Amerika Serikat dikabarkan produksi minyak mentah AS akan mendatar ke depannya, dimulai dari awal bulan Juli. Tidak adanya peningkatan produksi minyak mentah AS membuat supply minyak mentah menjadi terbatas yang pada gilirannya mendorong naik harga minyak mentah.

Fokus Pasar Minyak Minggu Ini

Pada minggu ini, pasar akan mengamati keluarnya OPEC Monthly Oil Market Report  dan EIA Short Term Energy Outlook pada hari Selasa.

OPEC Monthly Oil Market Report membahas isu-isu utama yang mempengaruhi pasar emas dunia dan memberikan outlook akan perkembangan pasar minyak mentah untuk tahun yang akan datang. Laporan ini memberikan Analisa detil mengenai perkembangan kunci yang mempengaruhi tren supply dan demand dari pasar minyak di dunia dan juga keseimbangan pasar minyak mentah.

Short-Term Energy Outlook (STEO) memberikan perkiraan sampai pada akhir dari kalender tahun depan mengenai konsumsi, supply, perdagangan dan harga berbagai tipe minyak yang utama sehingga memberikan kepada Energy Information Administration’s (EIA) AS perspektif jangka pendek dari pasar energi.

Dari data makro ekonomi, salah satu data makro ekonomi yang akan diamati dengan seksama oleh para investor adalah laporan inflasi AS bulan Juni yang akan keluar pada hari Rabu. Pasar memperkirakan angka yang keluar akan naik menjadi 8.7% dari sebelumnya pada bulan Mei 8.6%.

Sementara ada banyak tanda – tanda bahwa inflasi telah mencapai puncaknya, namun tidak berarti akan segera berbalik turun, lebih tepatnya akan mendatar. Resiko yang bisa terjadi adalah apabila angka inflasi yang keluar lebih tinggi daripada yang diperkirakan konsensus pasar. Angka inflasi Consumer Price Index yang tinggi akan meneguhkan ekspektasi kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps oleh the Fed di dalam pertemuan FOMC nya pada tanggal 27 Juli yang akan datang.  Pasar saat ini sedang memperhitungkan angka ini dan angka 50 bps pada pertemuan FOMC the Fed berikutnya di bulan September.

Kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps lagi oleh the Fed akan mendorong naik dollar AS yang pada gilirannya akan bisa membebani harga minyak mentah WTI.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di $101.70 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $100.67 dan kemudian $99.82. “Resistance” yang terdekat menunggu di $102.80 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $103.51 dan kemudian $104.38.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido.